Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Kurawa mengepung negara Wirata. Prabu Matsapati pun memerintahkan putra mahkotanya untuk memimpin pasukan.
Namun Raden Utara yang masih muda diliputi rasa takut dan ragu menghadapi musuh. Di tengah medan perang, ia menatap deretan bendera yang berkibar megah.
“Wrehatnala, lihatlah. Apakah kau yakin aku mampu mengalahkan mereka semua? Tidakkah kau melihat bendera-bendera itu?” katanya dengan wajah cemas.
“Raden, di medan perang tidak ada tempat bagi rasa takut,” jawab Wrehatnala, kusir setia sang senopati.
“Yang ada hanyalah keberanian. Sedikit saja rasa takut, maka terbukalah celah kekalahan.”
“Namun siapa yang tidak gentar melihat ini? Bendera ombak samudra milik Begawan Bisma, panah milik Begawan Durna, kepala gajah lambang Raja Astina, matahari bersinar lambang Raja Awangga Narpati Basukarna, dan mata dadu milik Sengkuni. Bagaimana aku tidak takut melihat para senopati sehebat mereka?” keluh sang putra mahkota yang masih ragu pada dirinya.
“Duh Gusti, jangan merasa lemah,” ujar Wrehatnala lembut.
“Kekuatan manusia tidak hanya datang dari keterampilan, tetapi juga dari keyakinan dan semangat. Bila keduanya hilang, bencana akan datang.”
Raden Utara menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menggenggam tombaknya erat dan memberi aba-aba pada pasukan untuk maju menyerang.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani