Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Tentang Sekda dan Sang Istri

Deni Kurniawan • Rabu, 12 November 2025 | 06:00 WIB
Ilustrasi Bergunjing tentang Sekda dan Sang Istri. Sebuah cerita terilhami kisah OTT KPK di Ponorogo.
Ilustrasi Bergunjing tentang Sekda dan Sang Istri. Sebuah cerita terilhami kisah OTT KPK di Ponorogo.

Cerpen oleh Deni Kurniawan*

WARKOP selatan alun-alun pagi itu penuh bisik-bisik. Hidung dirambati aroma kopi yang baru diseduh.

Sementara telinga, penuh nguing kabar tentang operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi di lingkup Pemkab Ponorogo.

Sakat, pensiunan PNS, menaruh cangkir kopinya dengan pelan.

“Sudah baca berita, Ban? Sekda Ponorogo ikut dicokok KPK,” katanya lirih

Sarban, tetangga sekaligus teman lamanya, melenguh panjang lalu berkata, “Walah, iya. Agus Pramono. Aku tadi nonton di TV. Pakai rompi oranye, baris sama bupati,”.

Dia menyeruput kopinya, lalu menatap jalanan yang mulai ramai.

“Padahal dulu waktu jadi camat di tempatku, orangnya halus, kalem, rajin salat,” lanjut Sarban.

Sakat mengangguk pelan. “Ya, kalau cuma lihat luarannya, siapa sangka. Tapi ndelalah ya, kena OTT,” ucap Sakat.

Suara radio warung kopi menyiarkan ulang konferensi pers KPK.

Suara Asep Guntur terdengar tegas, “Kami menetapkan empat tersangka: Bupati, Sekda, Direktur RSUD dr. Harjono, dan seorang kontraktor,”.

Sarban memulai obrolan lagi. “Yang bikin ramai sekarang bukan cuma Agus, Kat. Tapi istrinya juga kena sorot. Katanya kepala Bakesbangpol, ya?”.

Sakat menyandarkan badan ke sandaran kuris, suaranya lebih pelan.

“Iya, siapa namanya? Tak akrab di telinga orang Jawa,'' ucap Sakat.

''Namanya Besse Tenri Sampeang. Dilantik beberapa tahun lalu. Lelang jabatan, tapi katanya yang jadi ketua panselda ya suaminya sendiri, si sekda,” sahut Mbah Jaman, pemilik warkop.

“Nek kuwi bener, lucu to. Wong sing mimpin seleksi malah milih bojone. Mosok ora ana sing mikir?” ujar Sarban.

“Ya itulah, Ban. Zaman saiki, jabatan sering jadi urusan keluarga. Asal bisa ngatur orang-orange dewe, aman,” ucap Sakat.

Warkop mendadak sunyi sesaat. Radio berganti menyiarkan lagu campursari.

“Padahal dulu Ponorogo dikenal adem ayem. Sekarang malah jadi berita nasional. OTT KPK,” tutur Sakat dengan nada mengeluh.

Sarban mengangguk. “Wong-wong bergunjing di grup WA. Ada yang bilang dari proyek RSUD. Ada juga yang bilang dari jual-beli jabatan,”.

“Ya, banyak dugaan. Tapi yang jelas, semua berawal dari serakah,” jawab Sakat.

Beberapa saat kemudian, suara azan dzuhur terdengar dari masjid besar di ujung alun-alun.

Sakat meneguk sisa kopinya yang mulai dingin.

“Tau gak, Ban, aku dulu sempat kagum sama Pak Sekda itu. Bertahun-tahun bisa bertahan di jabatan, melewati dua bupati. Kupikir karena pintar ngatur,” ujar Sakat.

Sarban tersenyum miring. “Ngatur boleh, asal jangan terlalu pintar sampai main-main seperti itu, hasilnya jadi tersangka korupsi,” Sarban nyinyir.

“Reog-nya terkenal, tapi sekarang pejabatnya juga terkenal. Sayang, bukan karena prestasi,” lanjutnya.

Dua pria asli Ponorogo itu lantas tertawa kecil, tapi hambar.

Di kejauhan, awan gelap menggantung di atas Pendapa Pemkab Ponorogo.

Mendung itu seolah ikut menunduk, menatap kabupaten yang kini sedang kehilangan wibawanya. (*)

*Penulis cerpen redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Besse Tenri Sampeang #cerpen #jawa pos #istri #Sekda Agus Pramono #Deni Kurniawan #agus pramono #radar madiun #bupati #istri sekda #kesbangpol #ott kpk #kpk #ponorogo #ott