Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Apa yang kau pikirkan? Ikut denganku dan kau akan dihukum sesuai pengakuanmu,” ujar Widura tegas.
“Maafkan hamba, Gusti. Hamba hanya disuruh,” jawab Purocana ketakutan.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Widura.
“Aku tidak bisa menyebutkannya di sini, Raden. Biarkan hamba bicara di tempat sepi. Perlu Paduka tahu, ada kabar baik.”
“Jangan pengaruhi aku, Purocana. Kabar baik apa maksudmu?”
“Gusti, para Pandawa dan Kanjeng Ratu Kunti masih hidup,” bisik Purocana.
“Apa? Jangan berbohong. Jika kau berdusta, besok atau sekarang aku bunuh kau!” ancam Widura.
“Benar, Gusti. Aku baru melihat mereka menuju Desa Manahilan. Saat aku hendak menyerahkan diri dan mengaku, Paduka menangkapku,” ujar Purocana penuh penyesalan.
“Baiklah. Desa Manahilan. Aku akan kerahkan beberapa orang untuk mengawasi desa itu. Sementara itu kau harus ikut aku ke Astina.”
“Untuk apa aku ke istana, Gusti?” tanya Purocana gemetar.
“Agar Kakang Narpati Destarata tahu siapa dalang di balik kejadian ini,” jawab Widura.
“Jika aku jujur, apakah aku akan selamat dan dijamin aman, Raden?” pinta Purocana.
“Tergantung besar kecil andilmu dalam kasus pembakaran itu. Coba ceritakan semuanya!” jawab Widura menuntut.
Ternyata mata-mata Sengkuni sudah mengabarkan bahwa Purocana ditangkap Raden Widura. Sengkuni segera menyelinap, cemas akan bocornya rencananya.
Purocana menjelaskan rinciannya. Ia diutus membuat bahan bangunan Bale Sigala-gala yang mudah terbakar, sehingga ketika Pandawa tertidur, semua bisa dilalap api.
“Iya, aku tahu tentang itu. Jangan berbelit-belit. Lantas siapa yang menyuruhmu?” tanya Widura keras, mendesak pengakuan yang menentukan nasib banyak orang.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani