Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Sengkuni memerintahkan para prajurit pilihannya untuk bersiaga. Mereka ditugaskan membidik Purocana saat ia hendak membuka rahasia besar.
“Kalian semua bersiap. Begitu Purocana menyebut nama pelaku, lepaskan anak panah kalian. Jika Widura ikut mati, itu lebih baik,” perintah Sengkuni dingin.
“Baik, Raden Patih,” jawab para pemanah. Mereka segera membidik leher, kepala, dan jantung Purocana.
Saat Purocana berkata, “Yang menyuruhku adalah Raden...,” hujan anak panah melesat ke arah mereka. Widura cepat menghindar, namun Purocana terkena dan roboh bersimbah darah.
Widura segera menyeret tubuhnya ke tempat aman. “Hai, sadarlah! Katakan siapa pelakunya sebelum kau pergi!”
Dengan napas tersisa, Purocana berbisik lirih namun jelas, “Sengkuni... Sengkuni yang menyuruhku.” Setelah itu, ia menutup mata selamanya.
“Dasar biadab Sengkuni,” geram Widura.
“Tak henti-hentinya ia menebar kehancuran di negeri Astina. Ia membunuh Purocana agar satu-satunya saksi lenyap, supaya dirinya bebas dari tuduhan. Licik dan berbahaya!”
Widura pulang ke istana dan melapor pada Destarata bahwa kebakaran Bale Sigala-gala berkaitan dengan adik iparnya, Sengkuni.
Mendengar itu, Destarata marah besar.
Namun kemarahan itu sedikit reda ketika Widura menyampaikan kabar gembira, Pandawa dan Dewi Kunti masih hidup, kini berada di Desa Manahilan.
Kabar itu membuat Destarata lega. Meski demikian, ia bersumpah akan tetap mengusut kejahatan Sengkuni hingga tuntas.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani