Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Hari masih sangat petang ketika suara kuda dari kandang membangunkan Adirata. Ia membuka pintu depan dan melihat putranya bersiap menunggangi kuda.
“Mau ke mana kau, anakku? Sudahkah kau pamit pada ibumu? Makanlah dulu sesuap nasi,” ujar sang ayah penuh perhatian.
Raden Suryatmaja atau Basukarna turun dari kuda dan mendekatinya. Ia sebenarnya berniat pergi tanpa membuat gaduh, tetapi kuda kesayangan ayahnya justru membeberkan rencananya.
“Maafkan aku, ayah. Sesungguhnya aku hendak berguru pada seorang pandita yang sangat hebat. Aku berangkat pagi buta agar tidak pulang terlalu malam dan tidak membuat ayah khawatir.”
“Justru kepergianmu tanpa kabar itulah yang membuat kami cemas, anakku. Kau hendak berguru pada siapa, Suryatmaja?”
Basukarna menjawab pelan, “Aku akan berguru pada Begawan Rama Bargawa atau Egawan Ramaparasu.”
Adirata terkejut. Ia tahu Bargawa terkenal kejam dan pembantai para ksatria.
“Oh anakku, apakah kau sudah tidak mencintai kami sehingga hendak menemui orang yang menakutkan itu? Bergurulah pada siapa saja, tetapi jangan pada pandita itu.”
Basukarna tersenyum halus sambil menggenggam tangan ayahnya.
“Ayah pasti khawatir, aku mengerti. Namun seorang ayah biasanya merestui anaknya ketika ia ingin menuntut ilmu. Orang yang meninggal dalam perjalanan mencari ilmu adalah orang yang mati di jalan Tuhan dan surga balasannya.”
“Ayah paham, anakku. Tetapi mengapa harus dia?”
“Karena hatiku terpanggil. Aku percaya hanya dialah guru yang bisa membawaku menuju kemuliaan.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani