Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Baiklah anakku, tetapi pesan ayah, bila kau tak sanggup maka lepaskanlah kecintaanmu pada gurumu itu. Ingatlah bahwa ayah dan ibumu selalu menantikanmu di rumah yang hangat ini.”
Basukarna memeluk ayahnya. “Lalu ayah akan mengatakan apa pada ibu?”
“Tenang saja, ayah akan bilang bahwa kau sedang berburu di hutan. Maka pulanglah sebelum petang. Jangan membuat ibumu khawatir.”
Basukarna mencium tangan ayahnya lalu naik ke punggung kudanya.
Matahari mulai muncul, menyinari Suryatmaja seolah memberi restu pada sang anak. Cahaya hangat itu membuat hati Basukarna penuh semangat.
Batara Surya selalu mengawasinya. Ketika ia lelah dan tak menemukan tempat berteduh, awan bergerak menaungi tubuhnya.
“Aku rasa langit mendukungku. Hari sepanas ini aku tak merasakan terik. Aku harus bergegas sebelum benar-benar panas,” gumamnya.
Basukarna melanjutkan perjalanan dengan semangat berkobar, ingin segera bertemu sang guru.
Di kejauhan, ia melihat sosok besar berkulit legam, rambut acak dan tak terurus, duduk di atas batu besar.
Dengan menuntun kudanya, ia menghampiri orang itu.
Baca Juga: Lakon Wayang Pandawa Nglulandara 1, Sengkuni Merancang Siasat di Astina
“Hai kisanak, kau siapa? Aku hendak melewati jalan ini. Bisakah kau menyingkir?”
“Kenapa aku harus menyingkir dan menuruti permintaanmu?” tanya lelaki besar itu, tampak seperti jarang mandi.
“Karena aku akan menghadap guruku Begawan Rama Bargawa. Aku ingin menjadi muridnya,” jawab Basukarna tegas.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu berdiri dan mendekatinya. “Kau ingin menjadi muridnya?”
“Benar. Kenapa?”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani