Cerpen Bergunjing oleh Deni Kurniawan*
GELAP merayap turun di kampung kecil itu ketika Sakat muncul di teras rumah Sarban.
Lampu kuning temaram dan suara jangkrik menjadi latar obrolan yang nyaris terjadi setiap malam.
Bedanya, kali ini Sakat datang sambil mengelus dada. Bukan karena masuk angin, tetapi karena membaca berita tentang kenaikan gaji PNS 2025 yang resmi berlaku per 1 November.
“Ban, iki piye kok gaji PNS munggah maneh?”
Sakat duduk dengan wajah kusut, kabar gaji PNS naik itu seolah nyenggol ATM-nya yang kosong.
Sarban tak menanggapi, dia duduk santai sambil nyeruput kopi.
“Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ngumumne langsung. PNS, TNI-Polri, pejabat negara kabeh gajine naik. Aku? tensi darah yang naik," ungkap Sakat.
Sarban tertawa pelan. “Kerja neng pemerintahan pantes mendapat kenaikan gaji PNS, tanggung jawabe akeh,” tuturnya.
Sakat cemberut lalu berkata, “Kalau gaji PNS naik, harga sembako ikut naik njur pie?”.
''Iso dititeni Ban. Efek domino gaji PNS naik iku harga cabai, beras, LPG, rokok, kabeh ikut munggah! Lama-lama, wong cilik juga naik, utange," tuturnya.
“Wes to, Kat. Urip iki kudu disyukuri,'' ujar Sarban.
Sakat mendengus dan menatap Sarban penuh emosi.
Sarban tersenyum iseng. “Yowes, koe daftar CPNS wae mbesok.”
Sakat melongo. “Umurku 60 luweh, Ban! Daftar opo? Formasi PNS khusus lansia?”.
Sarban ngakak. “Sapa ngerti ana formasi staf bergunjing. Kabeh keluh-kesahmu bisa disalurkan resmi,” ungkapnya.
Sakat langsung ambil posisi seperti PNS di apel pagi.
“Kalau itu ada, aku pasti lulus tanpa tes,” ucapnya.
Keduanya tertawa bareng di teras rumah.
Dalam gurauan itu, mereka menyimpan kenyataan sederhana.
Bahwa, hidup rakyat kecil memang sering jadi penonton.
Tapi lewat tawa, mereka tetap bisa merasa menang.
Malam itu terasa hangat. Bukan karena gaji naik, tetapi karena kebersamaan dua sahabat tua yang tak pernah kehabisan bahan untuk bergunjing penuh satire. (*)
*Penulis cerpen Bergunjing redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan