Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Bergunjing: Mata Rantai Korupsi Sugiri

Deni Kurniawan • Senin, 17 November 2025 | 05:59 WIB
Sakat dan Sarban bergunjing tentang mata rantai korupsi bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Mulai OTT KPK, keterlibatan Indah Pratiwi, sampai kejanggalan proyek monumen reog.
Sakat dan Sarban bergunjing tentang mata rantai korupsi bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Mulai OTT KPK, keterlibatan Indah Pratiwi, sampai kejanggalan proyek monumen reog.

Cerpen Bergunjing oleh Deni Kurniawan*

RUANG tamu rumah Sakat malam itu terasa seperti pos ronda darurat. Lampu neon berkedip kecil, angin dingin menyesap dari celah jendela, dan dua cangkir kopi robusta panas mengepul di atas meja kayu tua.

Sarban duduk bersila, mengibas-ngibaskan koran yang baru dibacanya.
“Katamu apa, Kat? Ini berita makin edan. Bupati Sugiri kena OTT, tapi kok rasanya kasusnya kayak tali kusut—ditarik satu, muncul sepuluh.”

Sakat—yang sedari tadi mengaduk kopi tanpa gula—mendengus pelan.
“Lha iya, Ban. Wong mata rantainya panjang. Mulai penangkapan sampai cerita dan berita yang muncul belakangan, kok yo nggetuni kabeh.”

Sarban mendekat, menurunkan suaranya seolah rumah Sakat dipasangi alat sadap.
“Kamu denger soal peran sing ayu-ayu itu? Yang sekarang mengajukan cerai dengan suaminya? Siapa itu, Indah Pratiwi?”

Sakat menganggukkan kepala pelan.
“Denger. Wong jagat Ponorogo lagi ribut kok. Katanya sering kelihatan bareng elit-elit itu. Lha terus setelah OTT, makin banyak gosip berseliweran. Tapi yo aku gak wani ngomong akeh-akeh. Nyelekit urusane.”

Sarban tertawa kecil, pahit.
“Ya, jangan ngomong terlalu keras, Kat. Tapi jujur, kok ya banyak sekali yang aneh ya? Mulai dari duit setoran, aliran dana, sampai kabarnya ada hubungan dekat. Belum lagi soal siapa yang ngatur-ngatur akses ke bupati.”

Sakat menaruh sendok.
“Kata orang-orang, setiap keputusan penting itu selalu lewat jalur khusus. Dan jalur khusus itu... ya wis, jenenge wis pada tahu.”

Sarban menepuk lutut, “Iki loh, yang paling bikin aku sebel… Monumen Reog!”

Sakat mendongak, alisnya naik.
“Nah! Iki sing paling ndak masuk akal.”

Sarban membuka layar HP-nya, menampilkan berita: Rekanan Monumen Reog pernah masuk daftar hitam, tapi tetap menang tender.

“Kat, kalau rekanan sudah pernah masuk blacklist, kok bisa menang proyek sebesar itu? Dan anehnya lagi, alamat kantornya satu kelurahan dengan rumah Sugiri di Surabaya. Lah piye toh iki? Kebetulan model opo?”

Sakat mengangkat dua jari seperti tanda kutip di udara.
“‘Kebetulan, iki mata rantai korupsi. Disambung-sambung garisnya, kok yo saling nyantol.”

Sarban meminum kopi, wajahnya masam.
“Pantes KPK masuk sampai ngegeledah kantor dinas, rumah bupati, rumah sekda, sampek koper-koper dibawa. Ini bukan sekedar pungli receh. Ini proyek gede.”

Sakat teringat sesuatu.
“Kabarnya, setelah direktur RSUD dr. Harjono dikabarin bakal diganti, dia langsung cari cara amankan posisi. Ya itu… nyiapke duit buat disetor. Lha terus aliran duit itu katanya bukan cuma ke situ. Ada juga permintaan-permintaan lain, dari pihak-pihak lain.”

Sarban mengusap wajahnya.
“Kat, kalau bener semua ini, Ponorogo iki kok yo dibikin kayak sapi perah. Dari rumah sakit, monumen, sampai proyek-proyek perintilan.”

Sakat menghela napas panjang.
“Aku yo gak ngerti, Ban. Wong rakyat itu berharap pemimpin ngangkat martabat daerah. Eh jebule malah kena OTT.”

Hening sebentar. Kipas angin tua berderit seperti ikut mengeluh.

Sarban menatap Sakat, wajahnya seperti menyimpan berat.
“Kat… kowe iki dulu paling semangat bela bupati, lho. Tumben sekarang kok adem?”

Sakat tersenyum pahit.
“Lha piye, Ban. Waktu awal-awal aku pikir ini pemimpin anyar sing semangat. Tapi setelah lihat mata rantai ini, yo wis, rasa percaya itu pelan-pelan luntur. Rakyat ini gak marah kalau pemimpinnya sederhana. Yang bikin marah itu kalau pemimpinnya ngapusi.”

Sarban mengangguk mantap.
“Iyo. Dan paling menyakitkan, korupsi itu gak pernah sendirian. Kayak benang kusut. Ada yang jadi pintu, ada yang jadi perantara, ada yang jadi penikmat, ada yang jadi tumbal.”

Sakat berdiri, mematikan televisi yang dari tadi menayangkan berita kasus OTT itu.
“Ban, aku cuma berharap satu. Yen KPK sudah masuk, semoga jaringan korupsinya ditarik sampek bersih. Jangan cuma ujungnya.”

Sarban tersenyum kecut.
“Harapan rakyat kecil itu sederhana, Kat. Bukan pengen kaya dadakan. Tapi pengen pemimpinnya jujur. Wes itu wae.”

Keduanya terdiam lama, membiarkan suara hujan di luar rumah ikut menutup percakapan itu. Ruang tamu kecil itu seperti menyimpan perasaan seluruh Ponorogo malam itu: kecewa, marah, tapi tetap berharap keadilan akhirnya benar-benar turun.

Dan Sakat berbisik lirih sebelum menyeruput kopi terakhirnya:
“Korupsi itu kalau sudah jadi mata rantai… harus dipotong, bukan dilupakan.” (*)

*Penulis cerpen Bergunjing redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Bergunjing #proyek #cerpen #jawa pos #Deni Kurniawan #radar madiun #bupati #sugiri #korupsi #kejanggalan #sancoko #kpk #Monumen Reog #ponorogo #ott