Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bergunjing Sugiri Sancoko: Harapan dan Luka Dikhianati Melebihi Ketinggian dan Kedalaman Fondasi Monumen Reog

Deni Kurniawan • Senin, 17 November 2025 | 19:33 WIB
Obrolan Sakat dan Sarban tentang Sugiri Sancoko dan monumen reog dalam cerpen Bergunjing.
Obrolan Sakat dan Sarban tentang Sugiri Sancoko dan monumen reog dalam cerpen Bergunjing.

Cerpen Bergunjing oleh Deni Kurniawan*

SARBAN datang sambil membawa koran yang dilipat dua.

“Monumen Reog itu dulu dielu-elukan semua orang, Sak,” katanya tiba-tiba pada Sakat yang duduk di teras rumah.

Sakat mengangguk pelan lalu menrespons, “Iya, Ban. Waktu Fadli Zon datang, Menteri Kebudayaan itu bangga banget. Panel dadak merak tiga ton dipasang, dia bilang luar biasa besar. Tingginya melebihi GWK”.

Sarban membetulkan pecinya. “Aku nonton videonya, Sak. Fadli sampai bilang pemerintah pusat harus bantu menyelesaikan. Waktu itu orang-orang Ponorogo sudah seneng, ngiranya bakalan jadi ikon dunia.”

Sakat tersenyum getir. “Iya, seneng, sebelum kabar OTT mencoreng semuanya.”

Sarban membuka lipatan koran dan menunjuk judul yang besar.

“KPK masuk ke mana-mana, Sak. Rumah dinas bupati, sekda, rumah direktur RSUD, kantor disbudparpora, semuanya digeledah. Dokumen monumen diangkut dengan koper besar.”

Sakat menghela napas panjang. “Monumen tingginya 126 meter, Ban. Tapi korupsinya kayaknya lebih tinggi dari itu.”

Sarban tertawa pendek. “Wong kontraktornya aja pernah masuk daftar hitam. Tapi, kok yo menang tender Rp 73 miliar? Itu juga alamat kantornya satu kelurahan dengan Sugiri dulu waktu masih anggota DPRD Jatim.”

Sakat memutar bola matanya. “Kebetulan, katanya. Kebetulanmu kok persis banget sampek alamat sekampung.”

Keduanya terdiam sejenak, lalu Sarban kembali membuka suara.

“Sempat dibanggakan banyak tokoh lho, Sak. Stafsus Wapres Gibran juga datang. Bilang seni budaya Ponorogo diperhatikan. Ternyata, yaa di balik panggungnya ada yang nggak beres.”

Sakat mengangkat cangkir kopinya dan mendekatkan ke bibir, tapi tidak jadi diminum.

“Seng paling aneh itu, Ban. Dari 62 peserta tender, cuma tiga yang lolos prakualifikasi. Lha trus tinggal dua yang ajukan penawaran akhir. Lha yo jelas pemenange wis kebaca.”

Sarban menambahkan dengan suara lirih, “KPK bilang OTT Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko itu cuma pintu masuk. Lha saiki wes ketok, pintu dibuka. Ternyata lorongnya panjang banget.”

Angin malam berhembus membawa suara daun jati yang saling bergesekan.

Sakat bersedekap. “Aku cuma sedih, Ban. Monumen itu sebenarnya gagasan bagus. Bisa nyeret wisatawan, bisa jadi kebanggaan. Tapi gara-gara dirusak perilaku korup, jadinya malah aib.”

Sarban mengangguk. “Bener, Sak. Monumene ngadeg gagah. Tapi fondasinya, ojo-ojok justru dibangun dari duit haram.”

Keduanya saling pandang, sama-sama merasakan ironi.

Sakat mengembuskan napas panjang.

“Ban, monumen itu tinggi. Tapi ingat… yang lebih tinggi dari bangunan itu adalah harapan orang Ponorogo. Dan yang lebih dalam dari pondasinya adalah luka karena dikhianati.”

Sarban menutup korannya. “Yo wis. Semoga KPK bereske kabeh, Sak. Sing salah ditangkap, sing main proyek diseret, sing nakal dibongkar. Biar Reog tetep jadi kebanggaan, bukan bahan guyonan.”

Sakat tersenyum pahit. “Amin, Ban. Amin.”

Dan malam pun turun sepenuhnya, meninggalkan dua sahabat yang masih duduk bergeming, memandangi kegelapan yang tiba-tiba terasa tak seterang harapan mereka. (*)

*Penulis cerpen Bergunjing redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Bergunjing #bupati ponorogo sugiri sancoko #penggeledahan #disbudparpora #tender #cerpen #sugiri #korupsi #sancoko #kpk #Monumen Reog #ponorogo #ott