Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Supala Gugat 4: Anak Asuh yang Hatinya Dipenuhi Angkara

Ki Damar • Selasa, 18 November 2025 | 04:05 WIB
Ilustrasi lakon wayang Supala Gugat.
Ilustrasi lakon wayang Supala Gugat.

Lakon wayang Supala Gugat oleh Ki Damar*

DI KERAJAAN Amarta, Prabu Puntadewa tengah menggelar syukuran besar atas penobatannya sebagai raja.

Upacara Rajasuya yang terkenal sulit dan penuh syarat itu akhirnya terlaksana berkat kekompakan para Pandawa.

Prabu Matsapati, raja sepuh sekaligus kakek Puntadewa, memimpin prosesi wisuda sang cucu di hadapan seratus raja, tujuh pandita, serta para pengawal dan cantrik.

Suasana Amarta dipenuhi kebahagiaan. Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama.

Prabu Supala datang tiba-tiba, tanpa sopan santun, tanpa izin menghadap, dan langsung memasuki istana Amarta seolah-olah ia penguasa tempat itu.

Kedatangannya membuat Sri Kresna sigap waspada.

Selama ini Kresna mengetahui tabiat Supala—anak angkat yang pernah diasuhnya sejak kecil, namun kini hatinya dipenuhi angkara.

“Kau naik ke istana Amarta untuk apa, Supala?” tanya Kresna, suaranya tenang namun penuh kewaspadaan.

Supala tersenyum mengejek. “Oh, Kresna sudah ada di sini. Raja Dwarawati yang merasa titisan Wisnu. Apa kau belum puas dengan jabatanmu? Kau datang ke Amarta untuk mencari pengakuan para raja, bukan? Agar namamu diukir dalam sejarah.”

Kresna menatap tajam. “Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura tak tahu!” seru Supala lantang.

“Kau ini hanya memanfaatkan Pandawa! Bersama mereka, namamu akan terkenal sebagai pamong agung. Padahal, kau hanyalah raja licik yang suka memainkan kata-kata dan memanfaatkan peluang untuk menaikkan nama diri sendiri,” lanjutnya.

Supala menoleh ke Prabu Matsapati, tetua para raja.

“Sinuwun Matsapati, cabut gelar Puntadewa sebagai raja Amarta! Ia tidak sah dan tidak pantas dinobatkan!”

Suasana istana mendadak tegang.

Prabu Matsapati menghela napas panjang.

“Supala, kedatanganmu hanya membawa keributan dan berusaha memecah belah persatuan. Puntadewa dan Kresna adalah trah Mandura, cucu Prabu Basukunti. Kau lupa asal-usul?”

“Aku tidak lupa!” bentak Supala. “Dan benar mereka satu trah. Tapi Kresna—dia raja yang pandai bersilat lidah. Ia memanfaatkan keadaan. Ia menggunakan kelicikan sebagai senjata untuk menjatuhkan musuh!”

Aula istana Amarta pun berubah menjadi panggung ketegangan besar, saat gugatan Supala berdiri berhadapan dengan wibawa Kresna dan Puntadewa. (*)

*Penulis lakon wayang Supala Gugat alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Puntadewa #Lakon wayang #Supala #Supala Gugat #Amarta