Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Subali Lena 1: Apa Kau akan Terus Diinjak-injak?

Ki Damar • Kamis, 20 November 2025 | 02:07 WIB
Ilustrasi lakon wayang Subali Lena.
Ilustrasi lakon wayang Subali Lena.

Lakon wayang Subali Lena oleh Ki Damar*

ANGIN pagi di Pertapan Sunyapringga berembus pelan ketika Dasamuka, raja Alengka, datang berkunjung.

Langkahnya mantap, namun suaranya penuh racun halus yang diselipkan di antara kata.

“Kakang Resi Subali, apa kau akan terus diinjak-injak oleh adikmu sendiri?” ucap Dasamuka memulai percakapan. Nadanya dibuat seolah-olah penuh kepedulian.

“Aku kasihan padamu, Kakang. Lihatlah Dewi Tara, istrimu itu. Dia bidadari. Apa pantas hidupnya hanya berdiam di pertapaan seperti ini? Sementara adikmu Sugriwa, ia menjadi raja Gua Kiskenda, berkuasa, dihormati. Bukankah ini tidak adil?” lanjutnya.

Rahwana (nama lain Dasamuka) sengaja datang membawa bara lama.

Ia tahu benar bagaimana luka dapat dibuka kembali bila disinggung dengan tepat.

Dan ia benar-benar tak ingin ajian Pancasona —ilmu sakti milik Subali— kembali berkembang.

Subali menarik napas panjang. Sorot matanya tetap tenang meski ditusuk pertanyaan-pertanyaan tajam.

“Yayi Dasamuka, jangan kau ungkit perkara lama. Soal peristiwa ketika aku membunuh Maesasura dan Lembusura, itu hal yang sudah berlalu. Jika Sugriwa waktu itu bersalah karena salah paham, aku sudah mengikhlaskannya. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan lagi,” ujar Subali.

Jawabannya lembut, namun Dasamuka belum menyerah. Ia semakin menajamkan kata, kini menyinggung sesuatu yang lebih pribadi.

“Ah Kakang, kau ini tidak mengerti perasaan seorang bidadari. Istriku sendiri, Dewi Tari, sering mengeluh bosan tinggal di Alengka, padahal Alengka itu megah, penuh gemerlap emas dan kemewahan. Kalau di tempat seindah itu saja dia bisa jenuh, apalagi istrimu,” kata Dasamuka.

Rahwana mendekat sedikit, suaranya berubah lirih namun penuh tekanan.

“Ingat, Kakang. Istriku dan istrimu dulu berasal dari kahyangan. Hidup mereka penuh keindahan. Bila kau tak kasihan pada dirimu sendiri, setidaknya pikirkanlah kebahagiaan Dewi Tara. Jangan biarkan ia merana di pertapaan ini sementara adikmu hidup sebagai raja.”

Subali terdiam. Kata-kata Dasamuka mulai masuk ke celah paling rapuh dalam hatinya: harga diri dan cinta pada istri.

Rahwana bisa melihat dari sorot mata sang resi—api kecil itu mulai menyala. (*/den)

*Penulis lakon wayang Subali Lena alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Rahwana #dasamuka #Lakon wayang #Subali Lena #Lakon #wayang