Lakon wayang Subali Lena oleh Ki Damar*
TANPA menunggu lama, Subali meninggalkan pertapan Sunyapringga. Hatinya yang semula jernih kini telah dikeruhkan oleh racun kata-kata Dasamuka.
Ia melesat turun dari bukit dengan langkah lebar, ingin segera menemui adiknya, Sugriwa.
Namun di tengah jalan, Dewi Tara —istrinya— muncul membawa bakul buah.
Wajahnya terkejut melihat sang suami berjalan dengan aura panas yang tak biasa.
“Kakang mau ke mana?” tanya Tara lembut.
“Aku hendak ke Guakiskenda. Ada uneg-uneg yang harus kusampaikan pada Sugriwa,” jawab Subali singkat.
Dewi Tara segera berdiri menghadang. “Kakang, jangan. Sudahlah, bukankah kau sudah ikhlas melepas tahta dan memilih jalan tapa? Kau sendiri yang berkata tak ingin lagi melihat gemerlap dunia. Mengapa kini justru ingin kembali ke istana? Jangan membangunkan masalah lama.”
Subali tiba-tiba tertawa keras. Tawa yang tidak pernah muncul sejak ia menjadi resi.
“Hahaha! Justru kata-katamu itulah yang membuatku semakin yakin pada dugaan Dasamuka!”
Subali mendekat, menatap sinis.
“Kau selalu melarangku ke istana, aku curiga, Tara. Jangan-jangan kau memang mencintai Sugriwa?”
Dewi Tara terperanjat. Bakul buahnya terjatuh, dan tanpa sadar ia menampar pipi Subali.
“Kakang! Tuduhan macam apa itu! Aku ini bidadari. Aku memegang janji, menjaga martabat, dan tidak mungkin menodai kesetiaanku padamu! Apa kakang sudah tak mengenal siapa aku?”
Namun ucapan itu tak mampu menembus dada Subali yang telah dipenuhi amarah.
“Cukup! Benar atau tidaknya, akan kutanyakan langsung pada Sugriwa. Kalau benar ia mengkhianatiku akan kuberikan ganjaran setimpal! Dasar adik tak tahu diri!”
Dengan tenaga kesaktiannya, Subali melesat ke Gua Kiskendapura.
Di istana, Sugriwa sedang duduk memikirkan kesejahteraan rakyat wanara.
Ia sama sekali tidak tahu badai apa yang sedang datang menghampirinya. Tiba-tiba tubuhnya dihempas oleh bayangan besar.
Subali datang bagaikan angin ribut, menyeret Sugriwa keluar istana.
“Kakang! Ada apa ini? Apa salahku?” jerit Sugriwa, kebingungan.
“Jangan pura-pura!” Subali menghajar adiknya bertubi-tubi.
“Kau pikir aku tak tahu? Tahta sudah kuberikan padamu! Aku rela hidup sebagai pandita. Tapi kau masih berani merebut hati Dewi Tara! Dasar pengkhianat!”
Sugriwa limbung, mencoba melindungi diri.
“Kakang, aku tidak tahu apa maksudmu, aku tak pernah...” Namun, tinju Subali datang lebih cepat dari penjelasan apa pun.
Dalam sekejap, dua saudara yang dulu bersumpah saling menjaga kini menjadi musuh yang digerakkan oleh kesalahpahaman dan hasutan halus raja Alengka. (*/den)
*Penulis lakon wayang Subali Lena alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan