Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Subali Lena 4: Hamba Tidak Kuat Melerai Mereka

Ki Damar • Kamis, 20 November 2025 | 04:00 WIB
Ilustrasi lakon wayang Subali Lena.
Ilustrasi lakon wayang Subali Lena.

Lakon wayang Subali Lena oleh Ki Damar*

PERTARUNGAN antara Subali dan Sugriwa makin memanas. Lamat-lamat suara benturan tubuh dan gemuruh amukan itu terdengar hingga ke tebing sekitar.

Anoman, yang sejak tadi hanya bisa melihat dari kejauhan, tak sanggup melerai pertarungan dua pamandanya yang sama-sama sakti dan berilmu tinggi.

Tubuhnya gemetar. “Aduh… hamba tak sanggup. Mereka berdua terlalu sakti,” gumamnya.

Tanpa pikir panjang, ia melompat cepat menuju hutan Dandaka, tempat dua satria agung sedang bertapa: Raden Rama Wijaya dan Raden Lesmana.

Begitu sampai, Anoman sujud di hadapan mereka.

“Raden… hamba mohon pertolongan. Paman Subali dan Paman Sugriwa bertengkar hebat. Hamba tidak kuat melerai mereka.”

Rama memandang heran melihat sosok kera putih berbulu lebat dan bermata jernih itu. “Siapakah engkau? Mengapa seekor kera berbulu putih datang minta tolong padaku?”

“Hamba adalah Anoman, putra Batara Bayu. Mohon, Raden… ikutlah bersama hamba.”

Rama Wijaya mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan membantu melerai.”

Mereka berdua segera kembali ke Guakiskenda. Belum sempat mendekat, tubuh Sugriwa terpental keras ke depan Rama, jatuh berguling di tanah.

“Aduh, Raden… tolong hamba… kakang Subali memukuliku tanpa ampun!”

Rama menoleh pada Anoman. “Benarkah ini Sugriwa yang kau maksudkan?”

“Benar, Raden. Itu paman hamba.”

Rama mengangkat Sugriwa dan bertanya lembut, “Sebenarnya apa masalahmu hingga kakakmu marah sebesar ini?”

Sugriwa menggeleng, wajahnya penuh luka dan bingung. “Raden… hamba dituduh merebut hati Dewi Tara, istri kakang Subali. Padahal hamba sama sekali tak tahu apa-apa. Bertemu saja tidak pernah.”

Rama memandang ke arah Subali yang berdiri dengan dada naik turun penuh amarah.

“Dari busananya, dia seorang resi. Tapi kenapa hatinya masih digerakkan nafsu dan prasangka buruk?” ujar Rama pelan. “Seorang pandita seharusnya bening hatinya. Bukan begini.”

Raden Rama Wijaya maju mendekat. “Subali, hentikan. Jangan teruskan pertengkaran ini.” Namun Subali menatapnya tajam, seperti macan terluka yang tak ingin digurui.

“Siapa kau? Jangan ikut campur. Kalau kau terlalu dekat, wajah tampanmu bisa kuhancurkan.” Suaranya dingin dan tajam.

Rama berdiri tegak, tak gentar. “Aku adalah Raden Rama Wijaya. Aku tidak memihak siapa pun, karena aku belum percaya pada cerita keduanya. Tapi satu hal yang tidak bisa kuterima: kau menghakimi adikmu tanpa bukti. Menyerang secara brutal, dikuasai amarah. Itu bukan watak seorang resi.”

Subali menggeram. “Omonganmu seperti membelanya. Artinya kau memilih berpihak pada Sugriwa.”

Rama tetap tenang seperti samudra. “Aku berpihak pada keadilan, bukan pada orang.”

Subali mengangkat gada. “Kalau begitu, Rama Wijaya… siapkan kuburanmu sendiri!” (*/den)

*Penulis lakon wayang Subali Lena alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Sugriwa #Lakon wayang #Subali #Rama #Subali Lena #anoman #wayang