Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Pantas saja kita selalu dihadang dan ditarik pajak oleh Suroteleng. Bila kekayaan kita terkuras dan membuat negara mereka untung, Prabu Sitija tentu senang. Sebaliknya, bila kita lepas dari Trajutrisna, Prabu Sitija akan mempertahankan kita tanpa alasan apa pun. Sungguh licik Pancatnyana, patih Sitija itu. Ia menutupi kebenaran.”
“Dia melakukan ini karena punya alasan, Sinuwun.”
“Alasan apa itu, Sumber Katong?”
“Coba kita pikirkan. Sebelum menjadi raja, Prabu Sitija adalah pembunuh Prabu Bomantara, ayah Pancatnyana. Dari para prajurit yang berjaga, hamba mendengar bahwa meski kini Sitija berkuasa, ia sebenarnya diperalat oleh Pancatnyana untuk terus berperang. Patih itu menantikan saat Sitija mati terbunuh.”
Baca Juga: TKD Dipangkas Rp 261 Miliar, DPRD Ponorogo Desak PAD Naik dan Belanja Seremonial Dipotong
“Artinya ia nabok nyilih tangan? Agar tangannya tetap bersih, ia memakai kekuatan rajanya untuk memicu perselisihan dengan siapa pun dan menunggu ajalnya?” tanya Adipati Kahana.
“Benar, Sinuwun.”
“Sungguh licik dan bengis.”
“Maka dari itu hamba selalu berdoa agar Pancatnyana diadili. Prabu Sitija tidak sadar dirinya diperalat.”
Baca Juga: Lakon Wayang Adipati Kahana 1, Mencari Keadilan ke Wirata
“Baiklah, aku akan membukakan penjaramu. Terlalu besar risikonya kita diam di sini. Jelaskan hal lainnya padaku di perjalanan!”
Sumber Katong menangis haru karena akhirnya bisa bersama gusti sesembahannya. Namun ketika mereka berlari meninggalkan penjara, suara lantang terdengar.
“Berhenti kalian!”
Yayahgriwa menghadang mereka dengan sorot mata tajam.
(*/naz)
*Penuis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani