Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Yayahgriwa mengejar keduanya. “Sumber Katong, pergilah. Aku tidak akan menelantarkanmu. Bila kau mati, bumi Tunggarana tidak akan selamat. Namun bila aku yang gugur, itu akan menjadi bukti kuat bahwa Trajutrisna bersalah.”
“Aduh, Sinuwun, hamba tidak akan membiarkan itu terjadi. Paduka datang ke sini demi diri hamba, maka hamba tidak mau dianggap bersalah karena menelantarkan sesembahannya.”
“Kau memang sejak dulu keras kepala,” ujar Adipati Kahana. “Baiklah, kita hadapi bersama. Namun bila terjadi sesuatu padaku, kau harus lari menuju Wirata. Di sana kau pasti dilindungi. Jangan menuju Pringgondani, itu hanya akan menimbulkan masalah baru.”
“Baik, Sinuwun. Namun hamba yakin kita akan selamat.”
Yayahgriwa akhirnya mengejar dan menghadang keduanya. “Akhirnya kalian bertemu. Apa kalian sempat bernostalgia?” ejeknya.
“Kalian licik dan bengis,” tegas Adipati Kahana.
“Kalian memperalat raja kalian demi ambisi. Bisa-bisanya seorang bawahan memakai rajanya sebagai tangan dan kaki demi ketamakan dan balas dendam.”
“Oh, jadi kau sudah tahu? Kalau begitu tak ada jalan lain. Kau harus mati.”
Pertempuran pun pecah. Sumber Katong terpental. Adipati Kahana berteriak, “Lari, Sumber Katong!”
Yayahgriwa, raksasa bengis itu, menggigit Adipati Kahana dan menghisap darahnya hingga habis. Sang adipati gugur. Sumber Katong menyaksikan semuanya dengan air mata mengalir, lalu berlari sekuat tenaga.
“Aku tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Sinuwun Adipati Kahana.”
Dengan duka mendalam, ia terus berlari hingga akhirnya tiba di Wirata. Sementara itu, Yayahgriwa kembali ke Suroteleng untuk menghadap Prabu Sitija dan melaporkan kejadian tersebut.
(*/naz)
*Penuis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani