Lakon wayang Tunggarana Merdika oleh Ki Damar*
PRAJURIT Wirata akhirnya membawa Sumberkatong menuju Negara Wirata, setelah ia lolos dari kejaran Yayahgriwa—punggawa Trajutrisna yang melapor kepada Prabu Sitija yang tengah berperang dengan Gatutkaca, Raja Pringgondani.
Setibanya di istana, Prabu Matsapati memerintahkan agar Sumberkatong dibersihkan, diberi makan, dan diberi waktu menenangkan diri. Namun Sumberkatong merasa tidak pantas beristirahat ketika Kadipaten Tunggarana sedang dalam ancaman. Ia segera menghadap raja Wirata.
“Kenapa kau tergesa-gesa menemuiku? Luka dan pikiranmu belum pulih,” ujar Baginda Matsapati.
Sumberkatong menunduk. “Ampun, Sinuwun. Tidak ada waktu bersantai ketika Tunggarana berada dalam bahaya besar.”
Prabu Matsapati menatap serius. “Bahaya apa? Bukankah Pringgondani mengayomi wilayah itu?”
Sumberkatong menjelaskan rahasia besar yang selama ini ditutup-tutupi oleh Patih Pancatnyana dan para bawahannya.
“Sinuwun, Prabu Temboko dahulu memerdekakan Tunggarana. Surat keputusan itu ia buat agar hak Tunggarana kembali adil setelah berpindah-pindah penguasaan. Tapi surat itu disembunyikan, dan hamba dipenjara agar kebenaran ini tidak diketahui Pringgondani maupun Prabu Sitija.”
Prabu Matsapati terkejut. “Jangan mengada-ada. Adakah bukti?”
Sumberkatong bersujud lebih dalam. “Hamba menyimpan surat resmi itu. Bukti sah bahwa Tunggarana adalah kadipaten merdeka, bukan jajahan Trajutrisna maupun Pringgondani.”
Mendengar itu, Prabu Matsapati berdiri dari singgasananya.
“Jika demikian, tunjukkan surat itu kepadaku, Sumberkatong!”
Dengan begitu, rahasia kemerdekaan Tunggarana mulai terungkap, membuka jalan konflik besar antara Wirata, Trajutrisna, dan Pringgondani. (*/den)
*Penulis lakon wayang Tunggarana Merdika alumnus ISI Surakata
Editor : Deni Kurniawan