Lakon wayang Tunggarana Merdika oleh Ki Damar*
SUMBERKATONG akhirnya menyerahkan surat kerajaan peninggalan Prabu Temboko kepada Prabu Matsapati. Surat itu berisi pernyataan tegas bahwa Kadipaten Tunggarana bukan lagi wilayah Pringgondani, melainkan daerah merdeka yang berhak mengatur pemerintahannya sendiri.
Dokumen tersebut sah, bertanda tangan resmi dan distempel lambang kerajaan yang hanya digunakan pada masa Prabu Temboko.
Prabu Matsapati terhenyak. “Jagad Dewa Batara… kenapa baru sekarang kau memberitahuku, Sumberkatong? Hal sepenting ini kau sembunyikan. Lihatlah, Tunggarana tak pernah maju karena diperas Trajutrisna!”
Sumberkatong menunduk lirih. “Ampun, Baginda. Setelah Prabu Temboko wafat dan Prabu Bomantara tewas, hamba dicari-cari. Hamba ditangkap, dijebloskan ke penjara bawah tanah, dan terus diinterogasi soal surat itu. Namun hamba selalu berkata tidak tahu demi menjaga amanah.”
Matsapati semakin murka ketika mengetahui siapa yang membebaskan Sumberkatong.
“Lalu adipati Kahana yang menyelamatkanmu… ia pun akhirnya mati di tangan Yayahgriwa?”
“Benar, Sinuwun.”
Prabu Matsapati mengepalkan tangan. “Iblis laknat! Trajutrisna tidak bisa dibiarkan. Lalu di mana Sitija sekarang?”
Sumberkatong menjawab dengan waswas. “Raja Sitija sedang bertarung dengan Raja Muda Pringgondani… Gusti Gatutkaca.”
Dengan bukti kemerdekaan Tunggarana di tangan, amarah Wirata mulai bergolak. Konflik besar antara Wirata, Trajutrisna, dan Pringgondani semakin tak terhindarkan. (*/den)
*Penulis lakon wayang Tunggarana Merdika alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan