Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Tunggarana Merdika 5/Habis: Membuka Rahasia Besar

Ki Damar • Jumat, 28 November 2025 | 04:00 WIB

Ilustrasi lakon wayang Tunggarana Merdika.
Ilustrasi lakon wayang Tunggarana Merdika.

Lakon wayang Tunggarana Merdika oleh Ki Damar*

RAJA Trajutrisna Sitija mendengus keras, jelas tersinggung oleh keputusan Wirata. “Sungguh menyebalkan!”

Ia meludah ke tanah, menahan malu dan amarah.

Rajamala hanya tertawa kecil, puas melihat raja sombong itu akhirnya tersudut oleh keputusan politik yang lebih besar. Perjalanan panjang membawa mereka tiba di Istana Wirata, menghadap langsung Prabu Matsapati.

Begitu mereka berdiri di balai istana, Matsapati menggebrak. “Apa kalian sudah puas bertengkar? Apakah kalian merasa percekcokan bisa menyelesaikan masalah?”

Gatutkaca langsung merunduk hormat. “Maafkan aku, Eyang. Hamba hanya menjalankan kewajiban seorang satria.”

Sitija tak mau kalah.

“Dan aku melakukan tugasku sebagai raja! Tunggarana memberontak. Sebagai raja, aku harus mengambil sikap tegas.”

Matsapati menatap tajam. “Siapa bilang Tunggarana milik Trajutrisna? Sitija, siapa yang mengatakan itu kepadamu?”

Sitija menjawab mantap. “Tercatat dalam buku sejarah Surateleng, Eyang. Patih Pancatnyana juga menguatkan.”

Matsapati tertawa pendek. “Bacalah surat ini. Dari Sumberkatong — sekretaris era Prabu Temboko, eyangnya Gatutkaca.”

Sitija terpaku. Stempel dan tanda tangan Prabu Temboko tak mungkin dipalsukan. Surat itu menyatakan Tunggarana dilepaskan dan menjadi kadipaten merdeka, bukan wilayah Trajutrisna.

Matsapati menjelaskan dengan tegas: “Benar, di masa Prabu Bomantara, Tunggarana bagian dari Surateleng. Namun setelah menjadi wilayah Pringgondani, Prabu Temboko melepaskannya. Kau diperalat oleh Pancatnyana dan kelompoknya.”

Sitija membara. “Bangsat Pancatnyana! Akan kupenggal kepalanya di alun-alun!”

Namun Matsapati menahan. “Tenanglah, Putra Kresna. Jangan bunuh dia. Biarkan kau berpura-pura tidak tahu. Dengan begitu, kau akan melihat sejauh mana mereka memperalatmu. Pada waktunya, mereka akan menuai akibatnya.”

Setelah menenangkan kedua raja muda itu, Matsapati mengambil keputusan final. “Tunggarana resmi menjadi kadipaten merdeka.”

Sitija kembali ke Trajutrisna dengan hati panas dan malu, namun membawa pelajaran pahit tentang kekuasaan dan pengkhianatan.

Sementara Wirata menegaskan diri sebagai penengah keadilan, memastikan bahwa kedzaliman Trajutrisna tak lagi menekan rakyat Tunggarana. (*/den)

*Penulis lakon wayang Tunggarana Merdika alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#sitija #Lakon wayang #Gatutkaca #tunggarana merdika #wayang