Lakon Wayang Amarta Kelem oleh Ki Damar*
PAGI hari ketika matahari baru terbit, suasana Istana Amarta dipenuhi ketegangan. Prabu Kresna bersama para punggawa telah hadir memenuhi undangan Prabu Puntadewa.
Pertemuan itu digelar untuk membahas bencana besar yang melanda Madukara dan Jodipati—banjir dan tanah longsor yang menelan banyak korban.
Puntadewa membuka pertemuan dengan suara berat.
“Kakang Prabu, jika musibah ini tidak segera kita atasi, Amarta bisa ikut kelam. Rakyat menderita lahir batin. Apa yang harus kita lakukan?”
Kresna menatap seluruh ruangan dengan sorot tajam namun penuh kebijaksanaan.
“Yayi Aji, musibah seperti ini adalah peringatan alam. Manusia harus menjaga lingkungannya. Pertanyaannya sederhana: apakah rakyat Amarta sudah menghormati alam? Apakah mereka merawatnya?”
Ucapan Kresna membuat seluruh punggawa tertunduk. Diam yang panjang menggantung di balairung.
Puntadewa akhirnya menghela napas panjang.
“Duh, Kakang… kami memang bersalah. Beberapa hari ini para punggawa kami kerahkan menebang pohon dari hutan. Pohon-pohon itu digunakan untuk pembangunan di Madukara dan Jodipati. Werkudara dan Arjuna berencana mendirikan bangunan untuk melatih sumber daya manusia di bidang budaya dan kemiliteran. Kami tidak menyangka semua itu membawa bencana seperti ini.”
Arjuna segera ikut menyahut, menunduk dalam.
“Ampun, Kakang Prabu. Semua ini salahku. Aku terlalu terpaku pada egoku sendiri.”
Werkudara pun menyusul.
“Bukan kau saja, Janaka… aku juga bersalah. Aku ingin Amarta memiliki kekuatan militer terbaik, tetapi keinginanku justru mengorbankan rakyatku sendiri.”
Melihat kedua adiknya saling berebut menyalahkan diri, Puntadewa mengangkat tangan, mencoba menenangkan.
“Sudahlah. Jangan rebutan kesalahan. Ini semua salahku… seorang raja yang terlalu cepat menyetujui tanpa berpikir panjang.”
Ketiganya terdiam. Pagi yang semula cerah berubah menjadi simbol kegelisahan batin para pemimpin Amarta—kebijaksanaan yang terlambat, namun menjadi awal penyadaran besar. (*/den)
*Penulis lakon wayang Amarta Kelem alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan