Lakon wayang Amarta Kelem oleh Ki Damar*
PRABU Kresna berusaha menenangkan suasana ketika puntadewa, Werkudara, dan Arjuna saling menyalahkan akibat musibah yang menimpa Madukara dan Jodipati.
Menurutnya, setiap kebijakan pemimpin selalu membawa konsekuensi—baik risiko kepada rakyat maupun dampaknya terhadap alam.
Karena itu, ia menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah turun langsung membantu korban bencana sebagai wujud kepedulian pemimpin kepada rakyat.
Selain itu, Prabu Kresna menekankan pentingnya penanganan jangka panjang.
Ia mengusulkan pembangunan waduk, perbaikan saluran irigasi, serta melakukan reboisasi di wilayah Amarta.
'’Namun yayi aji, semua ini baru upaya fisik. Ada satu upaya spiritual yang juga perlu dilakukan,’’ ujar Kresna.
Puntadewa terkejut. ‘’Apa itu kakang?’’
Kresna lalu mengutarakan gagasan yang membuat seluruh Pandawa tercekat: mengubur pusaka Jamus Kalimasada sebagai upaya menolak bala.
Menurutnya, Kalimasada adalah jimat sakral pemberian langit, dan bila pusaka itu dipendam di tanah Amarta, bencana tidak akan berani lagi melanda kerajaan.
Namun puntadewa langsung menolak. ‘’Kakang Prabu, meskipun Kalimasada pusaka sakral, menguburnya bukan keputusan bijak. Jamus Kalimasada adalah pedoman hidup bangsa. Jika ia dikubur, sama saja kita mengubur mimpi dan harapan rakyat.’’
Werkudara menguatkan pendapat sang kakak. ‘’Benar, kakang Prabu. Bencana fisik masih bisa kita bangun kembali dengan harta, tenaga, dan kebersamaan. Tapi bila Kalimasada ikut terkubur, harapan anak-anak negeri ini ikut padam.’’
Prabu Kresna tersenyum kecil mendengar kegigihan para Pandawa. ‘’Bima, kau terlalu mendramatisasi. Bagaimana mungkin secarik naskah bisa membangun harapan seluruh bangsa?’’
Ketegangan pun memuncak. Di satu sisi, ada upaya spiritual yang diyakini dapat meredam murka alam.
Di sisi lain, ada prinsip bahwa Kalimasada bukan sekadar pusaka, melainkan simbol moral dan cita-cita Amarta. Perdebatan ini menjadi titik krusial dalam perjalanan para Pandawa menjaga kejayaan negeri mereka. (*/den)
*Penulis lakon wayang Amarta Kelem alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan