Lakon wayang Amerta Kelem oleh Ki Damar*
KRENA berhenti di tengah alun-alun Amarta.
“Baiklah, bagaimana bila kita kubur di sini saja, Yayi?” ujar sang raja Dwarawati sambil menatap Puntadewa.
Puntadewa mengangguk patuh.
“Baik, Kaka Prabu. Patih Tambak Ganggeng, perintahkan prajurit menggali tanah di tempat ini.”
“Sendika dawuh, Sinuwun,” jawab sang patih.
Belum sempat lubang itu digali dalam, Semar tiba dalam keadaan terengah-engah. Ia langsung berteriak lantang.
“Berhenti semuanya! Heh, Kresna! Kau ini buta apa bagaimana? Apa yang sedang kau kubur itu?”
Kresna menjawab dengan tenang, “Ini jimat Kalimasada, Kakang.”
Mendengar itu, Semar makin murka.
“Kalau kau mengubur Kalimasada, sama saja kau mengubur pedoman hidup rakyat Amarta! Kau ingin menenggelamkan negeri ini dalam kehancuran? Hentikan sebelum aku benar-benar mengubur kau bersama jimat itu!”
Puntadewa mencoba menengahi.
“Kakang Semar… kami—Pandawa—sudah menyetujui ini.”
Semar membalas cepat, keras dan jelas,
“Yang setuju itu kalian. Tapi tidak Semar. Semar tahu segalanya. Bila Amarta jatuh, Pandawa sedih dan lemah. Dan kalau Pandawa lemah… bukankah lebih mudah bagimu untuk membunuh mereka?”
Ucapannya membuat Puntadewa, Arjuna, dan Bima membeku.
Bagaimana mungkin Kresna berniat menghabisi Pandawa?
Semar melanjutkan,
“Ndara Puntadewa… apakah tidak curiga pada perilaku Kresna belakangan ini? Menanggulangi bencana itu harus dengan mendekati rakyat, menjaga alam, bukan dengan mengubur Jamus Kalimasada.”
Puntadewa menjawab polos,
“Aku tahu, Kakang Semar. Tapi semua ini atas perintah Kaka Prabu Dwarawati.”
Semar menatap tajam sosok di hadapan mereka.
“Sudahlah, waktunya kau menunjukkan siapa dirimu. Yang bilang kau Kresna itu siapa? Kau ini Batara Durga, datang untuk menyeret Pandawa pada kehancuran—karena kau dimintai Kurawa. Benar begitu, ha?!”
Saat itu juga, wujud Kresna berubah. Sosok yang berdiri di hadapan Pandawa bukan lagi raja bijaksana dari Dwarawati.
Melainkan Batara Durga, makhluk gaib yang penuh tipu daya. Takut pada Semar, ia kembali ke alamnya.
Baca Juga: RAMALAN MBAH SAKAT Barcelona vs Atletico Madrid, Waspada Gaya Ngotot Tim Tamu
Jamus Kalimasada selamat, dan ancaman terhadap Amarta pun sirna.
Pandawa kemudian memutuskan untuk membangun kembali negeri mereka dengan cara yang benar—melibatkan rakyat, merawat alam, dan memulihkan tatanan Amarta dari bencana yang menimpa. (*/den)
*Penulis lakon wayang Amerta Kelem alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan