Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Kumbakarna terbelalak ketika mendengar kabar yang dibawa keponakannya. “Indrajit… apa yang barusan kau katakan?”
Dengan raut sedih yang dibuat-buat, Indrajit menjawab, “Benar, Paman. Kumbha-Kumbha dan Aswani Kumba gugur di medan laga. Mereka dibunuh dua wanara. Yang satu berkulit putih, satunya lagi merah.”
Kumbakarna limbung. “Anak-anakku… mengapa mereka bisa berada di palagan? Siapa yang memerintah mereka maju?”
Indrajit menunduk. “Aku tidak tahu, Paman. Yang jelas, sebelum tewas mereka berteriak ‘Jangan ganggu negeriku! Pergilah!’ Seolah-olah mereka benar-benar mempertahankan Alengka.”
Indrajit sengaja menyembunyikan kenyataan. Sesungguhnya, kedua putra Kumbakarna dihasut agar percaya bahwa ayah mereka telah gugur.
Dengan kemarahan itu, mereka maju bertempur tanpa ragu.
Semua adalah siasat Megananda untuk mengobarkan api dendam di dada pamannya.
Kumbakarna semakin terbakar.
“Walau masih belia, mereka memiliki jiwa ksatria. Mereka sadar bahwa setiap rakyat wajib membela bangsanya. Sementara aku yang merupakan ayahnya justru duduk diam dan tak berbuat apa-apa!”
Indrajit berpura-pura gelisah.
“Paman… apa yang hendak kau perintahkan padaku?”
“Tak perlu banyak bicara,” jawab Kumbakarna mantap. “Aku akan kembali ke Pangleburgangsa. Aku akan mengenakan busana dan senjata peranku. Sudah saatnya aku turun ke medan laga dan mengusir penjajah dari negeriku.”
Megananda pun pergi dari hadapan pamannya dan segera melapor kepada sang ayah, Prabu Rahwana.
“Apa benar berita itu, Indrajit?” tanya Rahwana.
“Benar, Kanjeng Rama. Paman Kumbakarna sedang bersiap di Pangleburgangsa. Ia hendak mengenakan magut perang.”
Rahwana tergelak, wajahnya berseri penuh kegembiraan. “Bagus! Kalau begitu… mari kita saksikan bagaimana krida pamanmu di palagan! Haha!”
(*/naz)
*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani