Lakon Wayang Babat Alas Mrentani oleh Ki Damar*
PRABU Matsapati, Raja Wirata, memandang cucunya dengan penuh perhatian.
“Bagaimana, Bratasena? Apakah kau menerima pemberianku?” tanya sang kakek dengan suara lembut.
Bima menghela napas panjang. “Eyang, aku… tidak ingin menerimanya. Aku merasa tidak pantas. Pandawa sudah hidup tenang dan rukun. Kebahagiaan bagi kami bukan soal tahta atau jabatan. Kebahagiaan itu ada pada kebersamaan keluarga. Selama keluargaku damai dan tenteram, itu sudah cukup bagiku. Jadi… mengapa aku harus menerima pemberian yang begitu besar, Eyang Matsapati?”.
Prabu Matsapati tersenyum lirih, lalu menjelaskan maksudnya. “Eyang memberi tanah itu bukan tanpa alasan. Ada dasar yang jelas.”
Bima menatap serius. “Apa dasar itu, Eyang?”
Matsapati lalu bercerita, lebih pelan namun penuh makna:
“Hutan itu—Mrentani, atau Wisamarta, atau Wanamarta—sebenarnya adalah bagian warisan kakakku, Durgandini. Ketika ayahandaku wafat, aku mewarisi tahta sebagai Raja Wirata," katanya.
''Sementara kakakku diberi tanah, yang sekarang menjadi hutan Mrentani. Karena Palasara—suami Durgandini—adalah kakekmu juga, maka kalian, para Pandawa, memiliki hak mewarisi tanah itu,'' lanjutnya.
''Bila kau menolak, eyang justru merasa bersalah. Orang akan mengira eyang tamak, mengambil sesuatu yang bukan sepenuhnya hakku,” lanjutnya lagi.
Bima terdiam sejenak, memikirkan penjelasan itu.
“Aku tidak bisa memutuskan sendiri, Eyang. Aku harus musyawarah dengan saudara-saudaraku.”
Prabu Matsapati tertawa kecil.
“Ah, untuk apa? Di antara Pandawa, kaulah yang paling tegas. Saudaramu pasti mendukung. Lagi pula, suka tidak suka, hutan itu kini menjadi milik Pandawa.
Sudahlah, eyang tidak ingin berdebat. Babatlah hutan itu. Jadikan ia kerajaan baru. Bila istana dan negerimu sudah berdiri megah… undanglah eyang datang ke peresmian, cucuku!”
Bima hanya bisa menunduk, merasa berat namun memahami tanggung jawab besar yang diberikan kepadanya. (*/den)
*Penulis lakon wayang alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan