Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Babat Alas Mrentani 3: Manusia Sering Tak Puas dengan Apa yang Dimiliki

Ki Damar • Jumat, 12 Desember 2025 | 04:00 WIB
Ilustrasi lakon wayang Babat Alas Mrentani.
Ilustrasi lakon wayang Babat Alas Mrentani.

Lakon wayang Babat Alas Mrentani oleh Ki Damar*

BIMA menatap ibunya, masih bingung dengan ucapan yang barusan didengarnya.

“Mengapa semua ini disebut demi anak cucu kita, Ibu? Padahal yang berusaha membangun negara adalah kita, bukan mereka.”

Dewi Kunti tersenyum lembut. “Bima, kekayaan alam ini juga tinggalan dari para pendahulumu. Pohon-pohon besar yang kau lihat hari ini ada karena leluhur kita dahulu merawatnya. Mereka tidak egois—mereka memikirkan generasi setelahnya, termasuk kalian, para Pandawa.

Maka kita pun tidak boleh egois. Bila leluhur memikirkan kita, maka sudah sepantasnya kita memelihara alam demi anak cucu kita nanti.”

Bima terdiam. Ia seperti terjepit antara dua hal: kewajiban dan katresnan—antara tugas membangun negara dan cinta kasih untuk menjaga alam.

“Ibu… bila suatu saat aku terlalu cinta pembangunan dan kekayaan pribadi, bagaimana? Bila aku lupa menjaga alam?”

Dewi Kunti memegang bahu Bima, menatap putranya dalam-dalam.

“Seorang yang hidup dengan cinta kasih dan dekat dengan Tuhan akan selalu mengingat batas dirinya. Ia tahu kapan harus berhenti.
Tetapi manusia yang egois, yang jauh dari Tuhan, akan terus memburu nafsu demi harta dan jabatan. Karena manusia, Bima… sering kali tidak pernah puas dengan apa yang ia miliki.”

Bima mengangguk, namun kegelisahannya belum hilang.

“Ibu, aku takut. Bila kelak negara ini berdiri dan rakyat benar-benar sejahtera… aku takut suatu hari mereka kecewa.

Aku takut membuat kebijakan yang menyakiti mereka.

Itulah alasan terbesar aku ingin menolak pemberian dari Eyang. Aku tidak ingin menjadi sebab air mata siapa pun.”

Mendengar itu, Dewi Kunti memeluk Bima dengan penuh kasih.

Pelukan seorang ibu yang tahu bahwa putranya telah tumbuh—bukan hanya menjadi ksatria kuat, tetapi pemimpin yang mulai belajar memahami beban tanggung jawab. (*/den)

Editor : Deni Kurniawan
#Lakon wayang #Pandawa #Babat Alas Mrentani #wayang