Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Ibu, kami tidak merasa terbebani oleh hukuman ini,” ujar Arjuna dengan tenang.
“Janji dan sumpah Pandawa telah kami pegang teguh. Susah satu susah semua, senang satu senang semua, muktisiji muktikabeh, mati siji mati kabeh.”
“Itu bagimu, Arjuna,” jawab Dewi Kunti dengan suara pelan namun dalam.
“Namun kita tak pernah tahu sedalam apa isi hati kakakmu itu. Dalamnya samudra masih bisa diukur, tetapi dalamnya hati manusia, siapa yang sanggup menebaknya.”
Dewi Kunti menatap Bima dan Arjuna bergantian.
“Kalian berdua yang paling memahami kakakmu. Carilah. Kau, Bima, dengan keteguhan langkahmu. Kau, Arjuna, dengan kejernihan hatimu. Temukan dengan perasaan kalian.”
Bima dan Arjuna segera berangkat. Mereka mengandalkan naluri serta pemahaman mendalam tentang pribadi sang kakak.
Puntadewa adalah sosok sentral bagi Pandawa. Meski lemah dalam kekuatan raga, ia unggul dalam laku batin dan kebijaksanaan jiwa.
Bagi saudara-saudaranya, Puntadewa adalah penguat hati dan penuntun arah.
Kepemimpinannya lahir dari welas asih dan kepedulian, bukan dari kekuasaan.
Ia dicintai rakyat karena memandang persatuan sebagai kekuatan sejati. Bagi Puntadewa, seribu kawan terasa masih kurang, sementara satu musuh sudah terlalu banyak.
Ia dikenal sebagai satria ajathasatru, manusia tanpa musuh.
Tak pernah menyimpan dendam, tak pernah memelihara kebencian. Banyak raja menaruh hormat padanya karena ketulusan sikap dan kejernihan pikirannya.
Arjuna menyusuri dataran rendah hutan, tempat Puntadewa biasa berinteraksi dan merenung bersama kehidupan. Sementara itu, Bima menapaki wilayah lereng dan puncak gunung.
Ia tahu, saat mencari ketenangan sejati, Puntadewa kerap memilih tempat sunyi di ketinggian, mendekat pada alam dan dirinya sendiri.
(*/naz)
*Penulis adalah alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani