Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Wahyu Timbul Kencana 4, Hutan yang Digunduli Sengkuni

Ki Damar • Selasa, 16 Desember 2025 | 02:30 WIB
Ilustrasi turunnya wahyu dalam cerita wayang
Ilustrasi turunnya wahyu dalam cerita wayang

Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Baiklah, Pukulun, hamba akan segera kembali bersama saudara-saudara hamba,” ucap Puntadewa mantap.

“Syukur bila demikian,” jawab Batara Darma. “Namun mengapa engkau tampak masih bingung?”

“Pukulun,” kata Puntadewa lirih, “setelah mendengar sabda paduka, hamba baru menyadari satu hal. Hutan Kamyaka ini tidak seperti hutan pada umumnya. Seharusnya hutan memberi kesejukan dan ketenangan, tetapi mengapa di sini justru terasa panas dan sesak?”

Batara Darma tersenyum, lalu menjelaskan dengan suara dalam kepada Raja Amarta.

“Dahulu, ketika Suman atau Sengkuni telah menjadi patih di Astina, ia pernah dihukum oleh kakak iparnya, Prabu Destarata, yang merupakan uwakmu. Hukuman itu dijatuhkan karena ia mengadu domba Astina dan Pringgondani hingga Astina mengalami kerusakan parah akibat peperangan. Sebagai tanggung jawab, Sengkuni diwajibkan membangun kembali Astina.”

“Namun apa yang sebenarnya terjadi, Pukulun?” tanya Puntadewa.

“Pembangunan itu,” lanjut Batara Darma, “telah mengorbankan Hutan Kamyaka yang sejatinya berada dalam perlindungan Astina. Hutan ini dahulu sangat dijaga oleh ayahmu, Prabu Pandu. Akan tetapi Sengkuni membabat pohon-pohonnya demi membangun Astina yang rusak. Semua dilakukan diam-diam, tanpa sepengetahuan Destarata maupun Suyudana.”

Puntadewa terkejut. “Pukulun, pekerja di sini begitu banyak. Mengapa tidak seorang pun melaporkan perbuatan terlarang ini?”

“Ketahuilah, Puntadewa,” jawab Batara Darma, “Sengkuni adalah pejabat tinggi dengan pengaruh besar atas bangsa dan negara. Tak seorang pun berani bersuara atau menolak kehendaknya. Siapa pun yang mencoba melawan akan diancam dengan kekuasaannya. Itulah sebabnya hingga kini tak ada yang berani mengungkap kebenaran.”

Puntadewa menunduk, dadanya terasa sesak.

“Kelestarian hutan ini harus dijaga, Pukulun. Bukan hanya demi manusia hari ini, tetapi juga demi alam dan kehidupan di masa depan.”

Batara Darma mengangguk pelan. Dari kesadaran itulah, benih wahyu mulai tumbuh dalam diri Puntadewa, menuntunnya pada laku kepemimpinan yang kelak berpihak pada keadilan manusia dan keseimbangan alam.

(*/naz)

*Penulis adalah alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #hutan #Lakon #wayang #Sengkuni #batara