Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Srikandi Krida 3, Keberanian Ndara Putri

Ki Damar • Kamis, 18 Desember 2025 | 02:30 WIB
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang terkenal (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang terkenal (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

 

Batara Indra menghadang langkah Srikandi.

“Turunlah engkau, Srikandi. Jangan membela Pandawa yang telah lancang memfitnah Pukulun Manikmaya.”

“Apa yang kau katakan, Pukulun?” jawab Srikandi tegas.

“Pandawa tidak bersalah. Ilmu yang diajarkan Raden Bima adalah ilmu kebaikan, ilmu yang menuntun manusia agar berbuat benar dan menjauhi kemungkaran. Di mana letak kesalahannya? Sementara engkau duduk tinggi di kahyangan, apa andilmu bagi kehidupan manusia di bawah? Apakah ketika manusia dipuji dan dihormati, kau justru merasa iri?”

“Kami tidak pernah iri pada manusia,” bentak Batara Indra.

“Yang tidak bisa kuterima adalah kelancangan Bima berbicara pada penguasa jagad raya.”

“Batara Indra,” ucap Srikandi tanpa gentar, “ketahuilah, para dewa yang tinggal di atas sana sering kali sibuk dengan keakuan. Kalian jarang turun ke bawah. Sekalipun turun, yang dicari hanyalah puja dan sembah. Seolah-olah kalian paling berjasa dan paling penting. Padahal manusia di bumi menghormati siapa pun yang memanusiakan manusia.”

“Sungguh lancang!” teriak Batara Indra.

“Berani kau memfitnah dewa. Rasakan petir dan gunturku!”

Seketika langit menghitam di atas kepala Srikandi. Awan menggulung, petir menyambar.

Namun karena Kyai Semar bersemayam di dalam dirinya, petir itu justru meledak di udara dan memantul balik. Batara Indra terpental oleh kekuatannya sendiri.

Belum sempat suasana tenang, Batara Brahma menghadang. “Berani benar kau melawan dewa. Rasakan api suci milikku, Srikandi!”

Api berkobar hebat, membumbung tinggi mengelilingi tubuh Srikandi. Namun perlahan nyala itu mengecil, meredup, lalu padam sepenuhnya. Batara Brahma tertegun, menyadari siapa yang bersemayam dalam diri wanita Pancala itu.

“Ini sungguh aneh,” gumamnya. “Baru kali ini apiku musnah di hadapan manusia dari dunia bawah.”

Ia menunduk hormat. “Ampun, Pukulun. Hamba tak sanggup menghadang.”

Batara Brahma pun menghadap Batara Guru, mengakui kegagalannya, lalu mundur meninggalkan kahyangan, sementara Srikandi melanjutkan langkahnya tanpa ragu.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #srikandi #batara guru #Lakon #wayang