Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Ketika panah melesat, Kyai Semar keluar dari tubuh Srikandi dan menghalau serangan itu.
“Hai Cundamanik, aku tahu engkau pusaka kadewatan, namun engkau juga memiliki rasa. Bila ndaraku Srikandi bersalah, silakan engkau menyerang. Namun bila ia benar dan engkau tetap memaksa, jangan salahkan bila kedahsyatanmu lenyap dan panahmu menjadi busuk,” ucap Semar tegas.
Seketika panah Cundamanik berbalik arah dan kembali ke tangan Batara Guru. Sang penguasa kahyangan terdiam, tak tahu harus berbuat apa.
Ia telah kewalahan menghadapi raksasa, dan kini berhadapan dengan Srikandi yang dibela Semar.
Batara Guru lalu meminta pertimbangan Batara Narada, penasehat para dewa.
“Menurutku, jalan keluar hanya satu,” ujar Narada. “Keluarkan Pandawa dari Kawah Candradimuka. Setelah itu semua akan reda, Pukulun.”
“Namun bila aku melakukan itu, berarti aku mengakui kesalahan,” sahut Batara Guru ragu.
“Ini bukan saatnya memikirkan paduka salah atau benar,” jawab Narada tenang.
“Demi kedamaian kahyangan dan Jonggring Salaka, kepentingan pribadi harus disisihkan.”
Akhirnya Batara Guru menerima nasihat itu.
Pandawa diselamatkan dari Kawah Candradimuka dan diantar kembali ke istana negara Amarta. Melihat Pandawa telah kembali, Srikandi pun turun dari kahyangan.
“Kakang Semar, Pandawa sudah kembali ke istana. Mari kita pulang ke Amarta,” ucap Srikandi lega.
“Eh, sebentar,” jawab Semar. “Kita jangan pulang sendiri. Kita harus membawa raksasa itu.”
“Siapakah dia sebenarnya, Kakang?” tanya Srikandi heran.
Semar mengajak Srikandi menemui raksasa di kahyangan. Betapa terkejutnya Srikandi ketika mengetahui bahwa raksasa yang mengamuk demi keadilan itu tak lain adalah Prabu Sri Batara Kresna.
Akhirnya semua berkumpul di Amarta. Pandawa selamat, keadilan ditegakkan, dan kedamaian kembali menyelimuti kahyangan serta dunia manusia.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani