Lakon Wayang oleh Ki Damar*
NAMUN, ada satu alasan pasti di balik niat pandawa memboyong Semar.
‘’Kaka Prabu, aku juga tak tahu pastinya kenapa harus memilih Kakang Badranaya untuk diboyong. Yang pasti, Kakang Semar adalah pamong suci yang telah momong leluhur pandawa. Bagi Kakang Prabu Puntadewa, Kiai Semar merupakan perlambang rakyat kecil yang harus dirangkul dan disayangi,’’ papar Arjuna.
‘’Oh, rakyat kecil memang harus disayangi tanpa merendahkan dan juga menjatuhkan. Karena pemimpin tanpa rakyat akan sia-sia jabatannya. Aku salut pada pandawa bila niatnya seperti itu, karena banyak pemimpin yang tak menghiraukan rakyat,’’ tutur Kresna.
‘’Kenapa bisa begitu Kaka Prabu?,’’ tanya Arjuna.
''Ketika ingin menjabat, dia mengemis suara dan bersemangat sampai pelosok desa terpencil. Namun ketika sudah menjabat lupa janjinya, bahkan ketika rakyat menjerit malah memalingkan wajah seolah tak tahu apa-apa. Dia lupa duduk di kursi empuk adalah berkat suara rakyat,’’ terang Kresna.
Arjuna tertunduk dan berharap bahwa Kresna tidak sedang menyindir pandawa.
‘’Kami berjanji tidak akan meninggalkan rakyat Kaka Prabu’’, ungkap Arjuna.
‘’Janaka jangan berjanji ketika kau bahagia dan jangan bersumpah ketika kau marah. Karena hati manusia sering berubah. Kau tidak akan tahu ke depannya bagaimana. Karena kau datang dengan tulus aku akan memberi tahu di mana kembang slaga rahina kuduping wengi berada,’’ ungkap Kresna.
Bersamaan dengan itu, Kresna mendekati Arjuna lalu membisikkan letak bunga yang menjadi objek sayembara yang dibuat Semar itu. (*/den)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan