Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Banuwati Cidra 1, Siapa Pemilik Hati Sang Permaisuri?

Ki Damar • Jumat, 26 Desember 2025 | 23:30 WIB
Ilustrasi Duryudana dan Banuwati
Ilustrasi Duryudana dan Banuwati

Kisah Perselingkuhan Terlarang Dua Tokoh Wayang

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Cahaya bulan yang menggantung di langit malam Astina tampak pucat bila dibandingkan dengan pesona permaisuri negara itu, Retna Ayu Dewi Banuwati.

Tubuhnya jenjang, kulitnya bening bersih, sorot matanya tajam menyimpan wibawa, dan bibirnya tipis berwarna merah muda seolah dicipta untuk membungkam banyak hati lelaki.

Tak ada pria yang mampu menepis kekaguman saat memandang permaisuri Kedaton Gajahaya itu.

Bahkan Prabu Suyudana, raja Astina sendiri, menutup pintu hatinya bagi perempuan lain. Baginya, kecantikan Banuwati telah melampaui keelokan wanita mana pun di jagat raya.

Hari demi hari berlalu dengan rayuan sang raja yang tak pernah surut.

Namun tanpa disadari, keelokan Banuwati justru menjadi bara yang menyulut kegaduhan di Astina.

Banyak raja dari negeri lain datang berkunjung dengan alasan menemui Prabu Duryudana, padahal diam-diam mereka hanya ingin menyaksikan kecantikan sang permaisuri.

Meski demikian, Banuwati tak pernah sekalipun berniat mengkhianati suaminya.

Ia menjaga sikap, tutur, dan kehormatannya sebagai prameswari Astina.

Namun jauh di relung terdalam hatinya, tersembunyi sebuah perasaan yang terpenjara, cinta yang tak pernah diberi ruang untuk menghirup udara kebebasan.

Baca Juga: BNPB Klaim Modifikasi Cuaca Efektif Tekan Hujan di Sumatera, Dampak Banjir dan Longsor Mulai Berkurang

Nama itu adalah Arjuna.

Banuwati memahami sepenuhnya bahwa raganya telah menjadi milik Prabu Duryudana. Namun hatinya, sejak lama, tak pernah berpindah.

Ia sadar, pernikahan telah mengikat jasadnya, tetapi tidak pernah mampu menaklukkan rasa yang diam-diam tumbuh dan menetap.

Kerinduan yang dipendam terlalu lama akhirnya menggoyahkan keteguhan batinnya.

Dalam sunyi malam, ia memanggil Burisrawa, adik iparnya yang dikenal setia dan patuh.

Banuwati memintanya menuliskan sepucuk surat, memanggil Arjuna agar datang ke Astina pada saat bulan purnama.

Burisrawa terdiam, wajahnya diliputi kegelisahan.

“Mbok, apakah ini pantas dilakukan? Bagaimana bila Kakang Prabu Duryudana mengetahuinya?” tanyanya lirih.

Banuwati tak segera menjawab.

Tatapannya kosong, menembus dinding istana, seolah menyadari bahwa sejak keputusan itu terlintas di benaknya, ia telah melangkah ke jalan yang tak mungkin kembali.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#arjuna #perselingkuhan #Lakon #wayang #Duryudana