Kisah Perselingkuhan Terlarang Dua Tokoh Wayang
Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Adikku, jangan kau cemas,” ucap Banuwati dengan suara diturunkan.
“Kasih Prabu Astina kepadaku jauh lebih besar daripada murkanya. Aku percaya, selama aku bersikap lembut, ia takkan menaruh curiga.”
Mendengar keyakinan sang prameswari, Burisrawa akhirnya menuruti perintah.
Sepucuk surat ditulis dengan tangan gemetar, lalu dilepas ke angkasa melalui seekor burung merpati yang diarahkan menuju Madukara.
Namun takdir memiliki jalannya sendiri.
Di perjalanan, burung itu melintas di atas kepala Prabu Gudawasesa, raja dari seberang negeri yang terkenal angkuh dan bengis. Melihat bayangan mengepak di udara, amarahnya meledak.
“Berani sekali makhluk terbang melintas di atasku! Apakah ia tak tahu aku raja yang harus dihormati? Bahkan dewa pun akan kuhajar bila berani melanggar adab!” bentaknya.
Anak panah melesat, burung itu jatuh tersungkur. Dari sayapnya terlepas selembar surat yang mendarat tepat di hadapan sang raja.
Gudawasesa membacanya perlahan. Senyum licik mengembang di wajahnya.
“Ha… akhirnya,” gumamnya puas. “Dewi Banuwati. Ternyata ada celah untuk menemuinya. Jadi permaisuri Astina itu menyimpan rahasia, ingin bertemu Arjuna secara sembunyi-sembunyi.”
Togog yang berdiri di sampingnya menghela napas berat.
“Sinuwun, ikatan antara Arjuna dan Banuwati memang telah lama ada. Namun itu rahasia yang tak diketahui Prabu Suyudana.”
Gudawasesa terkekeh.
“Sungguh cerdik wanita itu. Namun ironis, Arjuna telah beristri, dan ia sendiri permaisuri raja. Sayang sekali kecantikan setinggi itu ternoda oleh hasrat tersembunyi. Tapi tak mengapa, kesempatan ini akan kugunakan.”
“Sinuwun bukankah paduka berniat ke Astina untuk menjalin persekutuan?” tanya Togog ragu.
Gudawasesa menoleh tajam. “Kau bodoh atau pura-pura tuli, Gog? Persekutuan itu hanya kedok. Tujuanku satu, melihat dengan mata kepala sendiri permaisuri yang termasyhur kecantikannya itu.”
“Lalu bagaimana paduka akan menemuinya?” tanya Togog hati-hati.
Raja itu tersenyum sinis.
“Aku akan menyamar sebagai Arjuna. Dalam surat itu tertulis, ia menunggu di bawah pohon cemara saat bulan purnama. Besok malam aku akan datang, dan melampiaskan segala hasrat yang selama ini hanya menjadi bayangan.”
Togog terdiam. Di hadapannya, tipu daya telah lahir. Dan bulan purnama kelak bukan hanya membawa cahaya, tetapi juga petaka.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani