Kisah Perselingkuhan Terlarang Dua Tokoh Wayang
Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Malam purnama akhirnya tiba seperti yang dijanjikan. Di bawah langit yang terang oleh cahaya bulan, Banuwati berdiri menanti, pandangannya tertuju ke arah barat. Dari kejauhan tampak bayangan seorang lelaki mendekat, langkah dan siluet yang begitu dikenalnya.
“Arjuna…” bisiknya lirih.
“Kau terlambat. Tak seperti biasanya. Apakah aku kini harus menunggu lebih lama untuk sekadar bertemu? Kau tahu betapa sulit bagiku keluar dari pengawasan suamiku.”
Lelaki itu berhenti di hadapannya. “Maafkan aku, Banuwati. Subadra tak ingin kutinggalkan. Aku harus mencari alasan agar bisa menemuimu malam ini.”
Banuwati menghela napas panjang.
“Sudahlah. Yang penting kita bertemu.” Ia menggenggam tangan lelaki itu. “Mari kita berjalan ke tepi Gangga.”
Ia menarik tangan yang disangkanya Arjuna, berlari kecil menuju sungai. Namun di balik sentuhan itu, jantungnya berdebar. Bukan oleh rindu, melainkan oleh sesuatu yang terasa asing.
Tiba-tiba tubuhnya terangkat. Lelaki itu menggendongnya dengan tergesa, membawa ke semak di bawah pepohonan di tepi sungai.
“Tumben sekali kau,” ujar Banuwati, menahan napas. “Biasanya kau begitu tenang. Mengapa malam ini kau begitu terburu?”
Lelaki itu tersenyum. “Cahaya purnama menyentuh wajahmu, membuatmu bersinar seperti air bening. Tak heran kau disebut Banuwati.”
Baca Juga: Lakon Wayang Banuwati Cidra 1, Siapa Pemilik Hati Sang Permaisuri?
Kata-kata itu justru membuat dada Banuwati mengeras. Ada getaran yang tak biasa. Ia mendorong tubuh lelaki itu perlahan.
“Berhenti dulu,” katanya tegas. “Kenapa kau berbeda, Arjuna? Biasanya kau hanya menggenggam tanganku, menciumnya dengan hormat. Mengapa kini kau langsung menarik tusuk kondeku hingga rambutku terurai?”
Ia menatap wajah di hadapannya, mencoba membaca sorot mata itu. “Katakan padaku… apakah kau benar Arjuna?”
“Kalau bukan aku, lalu siapa?” jawab lelaki itu cepat.
Banuwati mundur selangkah. Rasa tak nyaman menguasai dirinya. “Aku ingin pulang.”
“Kenapa kau pergi, Banuwati?” tanyanya menahan.
Banuwati menatap tajam.
“Banuwati? Sejak kapan kau memanggilku tanpa adab?” Ia menggeleng pelan. “Arjuna selalu memanggilku kakang mbok. Tidak pernah dengan nada seperti ini.”
Ia menarik napas, suaranya kini dingin. “Aku yakin kau bukan Arjuna. Dan sekalipun kau Arjuna, aku tak ingin melanjutkan pertemuan ini. Sikapmu bukan lahir dari rasa, melainkan dari nafsu.”
Banuwati berbalik. “Yayi, mari kita pulang. Kita cari waktu lain. Bila hatimu masih mengenal perasaan, bukan sekadar hasrat.”
Di bawah cahaya purnama yang tetap bersinar tenang, sebuah topeng mulai retak, dan kebenaran perlahan menunggu waktunya untuk terkuak.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani