Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Banuwati Cidra 5 Habis, Pelukan Terakhir di Bawah Bayang Cemburu

Ki Damar • Sabtu, 27 Desember 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi Duryudana dan Banuwati
Ilustrasi Duryudana dan Banuwati

Kisah Perselingkuhan Terlarang Dua Tokoh Wayang

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Rasa tak nyaman menjalar cepat di dada Banuwati. Ia berbalik dan berlari menjauh dari sosok yang sejak tadi mengusiknya.

“Banuwati! Mau ke mana kau?” seru lelaki itu. “Tidakkah kau ingin merasakan hangat tubuhku?”

Langkahnya makin cepat. Selendang penutup wajah terlepas dan melayang tertiup angin. Di hadapannya, tiba-tiba berdiri Arjuna, sosok yang begitu ia kenal, begitu ia rindukan.

Banuwati terperanjat. “Bagaimana bisa kau sudah berada di hadapanku?”

“Kakang mbok, kenapa kau berlari-lari?” tanya Arjuna heran.

Dengan tubuh gemetar, Banuwati menunjuk ke belakang. “Adikku Arjuna, di sana ada orang yang menyerupaimu. Ia mencoba melucutiku!”

Rasa takut memuncak. Tanpa sadar ia memeluk Arjuna erat, mencari perlindungan pada sosok yang ia percaya.

Dari kejauhan, Duryudana menyaksikan adegan itu dengan mata menyala.

“Janaka keparat! Berani-beraninya ia menyentuh permaisuriku!” geramnya.

Petruk buru-buru menenangkan.

Baca Juga: Harga Pangan Terbaru Hari Ini: Cabai Rawit Merah Tembus Rp70.950 per Kg, Telur Ayam Masih di Atas Rp 30 Ribu

“Sinuwun, jangan gegabah. Pelukan itu bukan nafsu, tapi rasa aman. Gusti putri baru saja lolos dari bahaya.”

Namun amarah Duryudana tak sepenuhnya padam.

“Awas saja jika Banuwati tidak kembali ke Astina. Aku akan membawa perkara ini ke Saptaharga, ke hadapan keluarga besar!”

Mendengar kegaduhan itu, Arjuna melepaskan pelukan. Pandangannya tajam.

Ia segera menghajar sosok yang menyerupainya. Pertarungan sengit pun terjadi.

Baca Juga: Lakon Wayang Banuwati Cidra 1, Siapa Pemilik Hati Sang Permaisuri?

Saat Arjuna palsu terdesak, Banuwati menarik cundrik kecil dari balik kainnya. Dengan satu tikaman cepat, ia mengakhiri perlawanan.

Arjuna menahan tangannya. “Jangan biarkan kulit indah itu ternoda darah, kakang mbok. Tenangkan dirimu.”

Napas Banuwati terengah. Matanya basah.

“Arjuna, meski kita terhalang janji suci dan ikatan dunia, rasa ini tak pernah padam. Semakin ingin kulupakan, semakin dalam aku tenggelam.”

Arjuna menatapnya dengan mata teduh, penuh luka namun tanpa penyesalan.

“Biarkan rasa itu bersemayam di hatimu, kakang mbok. Aku hanyalah awan yang meneduhi sungai. Aku bisa langsung menuju laut menjemputmu, namun aku memilih berjalan bersamamu, bukan menetap bersamamu.”

Ia melangkah mundur perlahan.

“Aku rela menjadi akar. Tak terlihat, tertanam dalam sunyi, agar kelak lahir buah manis yang diharapkan banyak orang.”

Di bawah cahaya bulan yang mulai redup, mereka berpisah tanpa janji, tanpa sentuhan lagi.

Cinta itu tidak mati. Ia hanya belajar berdiam, agar kehormatan tetap hidup.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#arjuna #perselingkuhan #Lakon #wayang #Duryudana