Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Semar Dawuh 2, Undangan ke Karangkadempel yang Mengusik Istana Amarta

Ki Damar • Selasa, 30 Desember 2025 | 04:29 WIB

Ilustrasi lakon wayang Semar Dawuh oleh Ki Damar.
Ilustrasi lakon wayang Semar Dawuh oleh Ki Damar.

Lakon wayang Semar Dawuh oleh Ki Damar*

SETELAH menerima wangsit Semar, Petruk kembali melanjutkan perjalanan menuju Negara Amarta. Meski lelah, ia membawa amanah yang tak bisa ditunda.

“Wis, aja akeh cangkem. Cepet menyang Amarta, Truk!” dawuh Semar tegas.

Petruk pun kembali mengayuh sepedanya, menapaki jalan yang kian menanjak, menuju pusat kekuasaan Pandawa.

Pandawa Rapat Kebijakan Awal Tahun

Di Istana Amarta, para Pandawa tengah menggelar pertemuan penting. Hadir pula Prabu Kresna, membahas evaluasi tahunan dan rancangan kebijakan demi kesejahteraan rakyat.

Menurut Pandawa, pergantian tahun harus diiringi dengan evaluasi dan pembenahan.

Prabu Kresna menyetujui gagasan itu dan menunggu rumusan kebijakan dari Amarta.

Di tengah rapat yang serius itu, Petruk tiba dengan tubuh basah oleh keringat dan napas terengah-engah.

“Sembah kula, ndara para Pandawa,” ucap Petruk sambil bersujud.

Prabu Puntadewa menerima sembahnya.
“Petruk, sembahmu aku terima. Kau datang tergesa-gesa. Pasti ada perkara penting. Apa yang ingin kau sampaikan?”

Undangan Semar Membuat Istana Terkejut
Dengan penuh hormat, Petruk menyampaikan amanahnya.

“Begini, Sinuwun. Hamba diutus bapak Semar untuk mengundang ndara para Pandawa rawuh ke Karangkadempel. Dawuh bapak, ada hal penting yang ingin disampaikan.”

Ucapan itu sontak mengubah suasana rapat.
Prabu Kresna, Raja Dwarawati, menimpali dengan nada tak sabar.

“Petruk, lihatlah. Kami sedang menyusun kebijakan penting untuk rakyat. Sepenting apa dawuh Kakang Semar hingga Pandawa harus sowan ke Karangkadempel? Mengapa ia tidak datang sendiri ke istana?”

Petruk menjawab lirih namun tegas.
“Dawuhipun Kanjeng Rama Semar, perkara ini bersifat kekeluargaan. Karena itu beliau tidak rawuh ke istana.”

Wibawa Raja Mulai Terusik

Namun jawaban itu justru memicu kegelisahan. “Lho-lho, kita semua ini keluarga. Seharusnya tak ada yang dirahasiakan.

Apakah Kakang Semar kini mulai memilah dalam memberi dawuh?” ujar Prabu Kresna dengan nada meninggi.

Ia melanjutkan,“ Kami tahu Semar adalah pangejawantah dewa. Tapi jangan lupa, ia juga abdi. Bila para pejabat mengetahui hal ini, martabat raja bisa runtuh.”

Ucapan itu menandai awal ketegangan besar antara kebijaksanaan rakyat dan kewibawaan kekuasaan.

Makna Filosofis Semar Dawuh Part 2

Lakon ini menyiratkan pesan mendalam. Yakni,
kekuasaan sering gelisah saat kebenaran datang dari luar istana. Nasihat tulus kerap dianggap ancaman oleh penguasa.

Wibawa sejati diuji ketika harus mendengar suara yang lebih rendah.

Semar Dawuh Part 2 menggambarkan benturan antara kebijakan formal dan pitutur nurani—konflik abadi dalam kepemimpinan. (*/den)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Lakon wayang #Semar Dawuh #semar #Bagong #petruk #Amarta