Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Semar Dawuh 3, Suara Rakyat Menggema, Pandawa Memilih Mendengar

Ki Damar • Selasa, 30 Desember 2025 | 06:57 WIB

Ilustrasi lakon wayang Semar Dawuh oleh Ki Damar.
Ilustrasi lakon wayang Semar Dawuh oleh Ki Damar.

Lakon wayang Semar Dawuh oleh Ki Damar*

LAKON wayang Semar Dawuh Part 3 mencapai puncak ketegangan. Di hadapan para Pandawa dan Prabu Kresna, Petruk—seorang kawula alit—berani menyuarakan kritik yang selama ini terpendam di dada rakyat kecil.

“Lho, Sinuwun, jangan murka kepada hamba. Hamba hanya saderma utusan. Jangan pula menghakimi rakyat kecil atas dasar jabatan dan kalungguhan,” ucap Petruk dengan suara bergetar namun tegas.

Ia melanjutkan dengan lantang, “Pemimpin bisa menduduki jabatan karena suara rakyat. Maka mohon, jangan jadikan kekuasaan paduka untuk menentang rakyat kecil. Kuwalat nanti, Gus. Suara rakyat adalah suara Gusti. Lebih baik didengarkan,”.

Kritik Rakyat yang Mengusik Istana

Petruk tak berhenti di situ. Ia menyentil realitas pahit yang kerap dialami rakyat. “Rakyat bersuara karena ada ketidakadilan. Namun ketika pemimpin bersuara, sering kali yang terdengar justru kebohongan.”

Ucapan itu membuat Prabu Kresna tersentak. “Lho, kau berani mengkritik pemimpin?” tanyanya dengan nada meninggi.

Namun Petruk justru semakin mantap. “Rakyat berhak mengkritik, Sinuwun. Rakyat bekerja, membayar pajak untuk menggaji paduka. Artinya, rakyat adalah majikan. Jika pemimpin tak becus, majikan berhak mengingatkan.”

Kresna mulai naik pitam. “Kelewatan kau, Petruk!”

Prabu Puntadewa Menjadi Penengah

Melihat suasana memanas, Prabu Puntadewa segera melerai.

“Sudah, Kakang Prabu. Jangan diambil hati. Aku tidak sakit hati. Mungkin ini perkara yang mendesak.”

Dengan kebijaksanaan khasnya, Puntadewa mengambil keputusan besar.
“Baiklah, Petruk. Kami akan ikut bersamamu ke Karangkadempel.”

Namun muncul pertanyaan krusial: “Lalu bagaimana keputusan kebijakan untuk tahun depan? Ini harus segera diputuskan.”

Puntadewa menjawab tenang. “Kakang Prabu, keputusan itu akan kutunda hingga aku mendengar apa yang hendak disampaikan Kakang Semar. Aku berharap dawuh Semar membawa kemaslahatan bagi kita dan rakyat.”

Pandawa Memilih Mendengar Nurani

Prabu Kresna akhirnya mengalah. “Baiklah, Yayi Prabu Yudistira.”

Petruk pun tersenyum lega. “Nah, begitu enak didengarnya, Sinuwun. Bila Prabu Kresna ikut pun tak mengapa. Bapak Semar pasti menerima.” Namun Kresna memilih tetap tinggal di istana. “Aku menunggu Pandawa di sini.”

Menuju Karangkadempel

Para Pandawa segera berangkat menuju Karangkadempel.

Di sana, Semar telah menunggu di depan joglo kecilnya, wajahnya teduh namun penuh makna.

“Monggo, lenggah mriki, ndara kula Pandawa,” sambut Semar dengan penuh welas asih.

Sebuah pertemuan besar pun akan segera dimulai—pertemuan antara kekuasaan dan kearifan, antara jabatan dan kejujuran nurani.

Makna Filosofis Semar Dawuh Part 3

Lakon ini menegaskan pesan utama budaya Jawa. Yakni, kekuasaan tanpa mendengar rakyat akan kehilangan arah. Kritik bukan ancaman, melainkan tanda cinta pada negeri.

Pemimpin sejati adalah yang mau menunda ego demi kebenaran. Sing kuwasa kudu gelem ngrungokake, dudu mung gelem dhawuh. (*/den)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Puntadewa #Lakon wayang #Pandawa #Kresna #Semar Dawuh #semar #petruk