Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Terilhami QS Al Alaq 6-7, Aku Sudah Lupa, Tuhanku

Deni Kurniawan • Jumat, 30 Januari 2026 | 22:47 WIB
Ilustrasi cerpen yang terilhami QS Al Alaq ayat 6-7.
Ilustrasi cerpen yang terilhami QS Al Alaq ayat 6-7.

TUBUH yang selama ini dibanggakan tiba-tiba tumbang oleh penyakit. Dia kini terbelenggu dalam sepi, terbaring pucat di ruang perawatan. Matanya tampak letih.

Itu adalah satu dari sederet nasib buruk yang datang bertubi-tubi kepada Raka.

Seorang pekerja kantoran yang dua tahun terakhir menduduki jabatan pimpinan.

Sebelum apes beruntun hingga akhirnya divonis mengidap sakit liver, kehidupan Raka dipenuhi kejayaan.

Saban pagi, Raka berdiri di depan cermin dengan setelan jas bermerek. Dalam momen tersebut, dia selalu memuji diri sendiri.

''Aku sudah sampai di titik karier ini, kerja kerasku sendiri, tanpa bantuan orang lain,''.

Kalimat itu mulai sering keluar dari mulutnya setelah dia resmi mendapat promosi jabatan di kantor tempat bekerja.

Belum sampai setahun menjabat, mobil baru terparkir rapi di garasi. Warnanya merah kinclong, kerap jadi bahan pergunjingan tetangga.

Namun, tak sedikit orang-orang di sekitar Raka yang memuji. Terutama para bawahan yang ingin menyenangkan hati pimpinannya.

Ponsel mahal bergetar tanpa henti oleh pesan-pesan pekerjaan. Hidupnya, menurut ukuran manusia, sudah sempurna.

Semua serba berkecukupan. Bahkan, bisa dibilang mewah. Hari-hari berlalu dengan ritme yang serupa. Rapat, target, pujian. 

Raka semakin jarang menghentakkan jidatnnya ke bumi. Bibirnya seolah terkunci untuk berbicara kepada langit.

Bahkan saat Ramadan, perutnya tak lagi merasa lapar. Kebahagiaan luar biasa ketika mendengar lantuan azan Maghrib, sudah menghilang dari dadanya. 

Doa-doa yang dulu diucap ketika masih seorang karyawan biasa, tak lagi ada. Namun tampaknya, Raka termasuk manusia yang dipilih Yang Maha Pengasih.

Saat dirinya terlena dengan capaian duniawi yang, pertolongan datang dalam bentuk nasib sial hingga kini dia terbaring di dipan perawatan.

Pertolongan diawali saat proyek besar yang dikerjakan Raka bermasalah. Pembangunan monumen yang hampir jadi, ternyata jadi objek korupsi pejabat daerah.

Singkat cerita, Raka kehilangan separuh kekayaannya. Termasuk jabatannya sebagai pimpinan. Kantor tempat bekerja memecatnya.

Sebagai umat Islam, Raka kala itu masih belum sadar bahwa apa yang dialami adalah bentuk perhatian dari Yang Maha Pengasih.

Setelah dipecat, dia mencoba peruntungan di dunia usaha. Raka membuka toko bangunan. Itu sesuai saran seorang rekan kerja di kantor sebelumnya.

Alih-alih memperbaiki nasib, Raka malah kena tipu. Pesanan bahan-bahan bangunan tak datang. Duit terlanjut ditransfer. Laporan penipuan ke polisi tak kunjung membuahkan hasil.

Raka habis-habisan. Gejala asam lambung yang diderita berujung vonis liver. Opname di rumah sakit saat ini, merupakan yang ketiga kalinya.

Dan malam ini, dia mulai sadar bahwa yang membuatnya jatuh bukan kegagalan. Melainkan, perasaan serba kecukupan yang berlebihan. Lupa bahwa ada Yang Maha Mencukupkan.

Setelah sekian lama, dia kembali menjadi yang dulu. Raka rutin menghentakkan jidat ke bumi. Bibir mulai berucap ke langit, ''Aku sudah lupa, Tuhanku,''. (*)

Cerpen ini terilhami QS Al Alaq 6-7 dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. Ketika melihat dirinya serba berkecukupan,”.

(*) Penulis cerpen adalah redaktur di Jawa Pos Radar Madiun.

Editor : Deni Kurniawan
#QS #cerpen #jawa pos #ramadan #Terjemahan #radar madiun #Cerita #Al alaq #islam