RAMADAN datang tanpa pernah dia tunggu. Hanya penanda kalender. Banyak teman-teman mengajak makan bersama di waktu maghrib. Itu yang ada di kepala Alia.
Perempuan 25 tahun yang hidup sebatang kara. Dia tak pernah melihat langsung wajah ibunya, meninggal saat melahirkannya. Ayahnya tutup usia lima tahun lalu.
Bagi Alia, puasa terasa asing, berat, dan tak perlu. Dia terbiasa menjalani hari seperti biasa ketika orang-orang di sekitar menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.
Namun, Ramadan kali ini berbeda. Sebuah mimpi mengubah sudut pandang gadis cantik tersebut. Dalam tidurnya, Alia melihat ayahnya terbaring di sebuah ruang sempit dan gelap.
Wajah ayahnya pucat, tubuhnya gelisah, seolah menanggung beban yang tak sanggup diucapkan. Tak ada api, tak ada teriakan. Hanya kesunyian yang menyiksa.
Alia terbangun dengan napas tersengal dan dada bergetar. Air mata mengalir tanpa dia mengerti mengapa.
Bulir-bulir keringat menyembuul di keningnya. ''Ada apa, Ayah?,'' gumamnya sembari menggenggamkan tangan juga sarat keringat berkali ulang.
Sejak itu, bayangan ayahnya seolah tak pernah benar-benar pergi. Dua malam berturut-turut dia mendapat mimpi serupa. Matanya sangat jelas mendapati raut wajah sang ayah.
Di malam ketiga, mimpi yang sama dialami kembali. Beda dengan sebelumnya, Alia memberanikan diri bertanya.
''Ada apa, Ayah?'' ujar Alia dengan bibir bergetar.
''Tolong ayah di sini, puasalah putriku, kirimkan doa untuk ayahmu ini,'' jawab sang ayah.
Alia lantas terbangun, duduk lama di tepi ranjang. Jarum jam menunjuk pukul 03.00. Dia lama seperti itu. Hingga langit tak lagi gelap.
Malam satu Ramadan benar-benar datang. Umat muslim yang lain berbondong-bondong tarawih. Bocah-bocah berlari-lari kegirangan menuju masjid, menyalip meliuk-liuk jemaah sepuh.
Alia tak pergi tarawih. Dia hanya memandangi aktivitas khas Ramadan itu dari jendela kamar. Dorongan di kaki untuk melangkah ke masjid ditahannya kuat-kuat.
''Aku belum bisa, Ayah. Maafkan aku,'' tutur Alia lirih.
Sejurus kemudian, dia meraih guling. Tubuh direbahkan miring-memeluk saksi mimpi pertemuannya dengan sang ayah beberapa malam terakhir.
Bercak basah membekas di sarung guling berwarna krem itu. Alia kembali menangis. Rembesan air mata makin melebar sebelum dia terlelap dalam perasaan yang tak terperikan.
Pengeras suara masjid meraung-raung. Tanda masuk waktu sahur hari pertama Ramadan. Alia terbangun dari tidurnya.
Seperti yang sudah-sudah, dia duduk beberapa lama. Kening dan telapak tangannya penuh keringat.
''Aku akan mencoba, Ayah,'' ucap Alia.
Tangannya gemetar saat meneguk air sahur. Bukan karena lapar, tapi karena takut. Takut gagal. Takut tak kuat. Takut ayahnya semakin menderita di alam kubur seperti yang dilihat di mimpi-mimpi.
Hari itu berjalan lambat. Godaan datang bertubi-tubi. Rasa pusing, emosi yang mudah tersulut, dan suara dalam kepalanya yang terus berbisik, “Untuk apa kamu memaksakan diri?”.
Alia hampir menyerah. Setiap kali dia melemah, wajah ayahnya kembali hadir.
''Aku belum sempat membahagiakanmu, ini waktu untukku ayah,'' ujar Alia menyemangati diri sendiri.
Untuk pertama kalinya, dia ingin berubah. Menjelang magrib, Alia duduk sendirian. Segelas air putih ada di depannya. Tangannya kembali gemetar, kali ini bukan karena ragu, melainkan haru.
Ketika azan berkumandang, air mata jatuh lebih dulu sebelum air menyentuh bibirnya. Seteguk. Hanya seteguk. Tapi rasanya seperti kemenangan besar.
Seketika itu, terlintas senyum merekah dari wajah sang ayah. Alia tersenyum sekaligus terisak. Dia sadar, puasa bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk memulai.
Jalan takwa tak selalu dimulai dengan langkah mantap, kadang dimulai dengan ketakutan, air mata, dan niat yang rapuh.
Malamnya, Alia khyusuk mendoakan ayahnnya. Dan untuk pertama kalinya, Ramadan tahun ini terasa seperti pulang bagi gadis cantik yang kemudian memutuskan berhijab itu.
Cerpen ini terilhami perintah wajib puasa bagi umat muslim yang termaktub dalam QS Al Baqarah 183. “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (*)
*Penulis cerpen ini adalah redaktur Jawa Pos Radar Madiun.
Editor : Deni Kurniawan