RAMADAN merupakan saat yang tepat meningkatkan iman. Berbagai cara dan media bisa dimanfaatkan untuk hal hal tersebut.
Membaca kisah islami menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan. Sebab, banyak nilai positif sesuai ajaran agama Islam yang terkandung di dalamnya.
Cerpen ini sengaja ditulis untuk hal tersebut. Sebuah kisah yang terilhami QS Ar Rahman ayat 13. Ayat yang banyak diulang dalam surat tersebut. Bukti bahwa Allah SWT menyiratkan maksud yang luar biasa di dalamnya.
Beginilah ceritanya.
Suara azan maghrib mengalun lembut dari masjid ujung gang.
Insani menatap segelas air putih di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar.
Sudah lama sekali ia tidak menunggu azan dengan perasaan seperti ini.
Sejak remaja, tepatnya sejak kelas dua SMA, Insani berhenti berpuasa. Awalnya karena alasan lelah sekolah.
Lalu sibuk kuliah. Lalu kerja. Lalu hidup yang katanya terlalu rumit untuk diisi dengan kewajiban. Alhasil, puasa hanya tinggal kenangan.
Namun, Ramadan tahun ini berbeda. Usianya sudah menginjak 31 tahun. Entah mengapa, ada kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.
Ada rasa kosong yang tak bisa ditambal dengan gaji, nongkrong, atau perjalanan akhir pekan.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, ia berniat puasa.
Seharian tubuhnya terasa berat. Kepala pening menjelang siang. Perut melilit ketika sore merayap pelan. Beberapa kali ia hampir menyerah.
“Untuk apa?” pertanyaan itu sempat terlintas di benaknya. Berkali-kali. Tapi, ia bertahan.
Dan kini, di detik azan Maghrib berkumandang, ia menegakkan tubuhnya.
Segelas air itu diteguknya perlahan. Hanya seteguk.
Sesuatu yang hangat mengalir dari tenggorokan hingga dadanya. Bahkan, seolah terasa mengalir merata ke seluruh tubuh serupa aliran darah.
Bukan sekadar air yang membasahi kerongkongan kering. Ada rasa yang sulit dijelaskan.
Nikmat Ramadan yang tak terperikan. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Ia menutup wajahnya dengan tangan.
Air putih itu terasa lebih manis dari minuman apa pun yang pernah dibeli.
Seteguk air itu seperti membuka pintu kenangan.
Ia kembali menjadi bocah kecil berpeci hitam, berlari kecil menuju musala setiap sore.
Tangannya membawa iqra, suaranya terbata-bata membaca huruf hijaiyah.
Ia teringat suara ustaz tua yang sabar membenarkan makhrajnya. Teringat lampu musala yang temaram.
Teringat bau karpet yang khas. Dan, Ramadan. Ya, Ramadan dan masa kecilnya.
Ia ingat bagaimana dirinya dan teman-teman antre takjil di halaman musala.
Gelas plastik berisi es sirup merah, kurma dua butir, dan gorengan hangat yang dibagi rata. Betapa bahagianya ia saat itu.
Bukan karena makanannya mewah. Tapi karena menunggu azan bersama, karena doa berbuka yang dilafalkan serempak, karena kebersamaan yang hangat.
Kapan terakhir kali ia merasakan itu? Insani mengusap wajahnya.
Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia lupakan. Yakni, nikmat bukan hanya tentang kenyang. Bukan tentang gaji. Bukan tentang pencapaian.
Nikmat adalah rasa cukup. Nikmat adalah hati yang tenang. Nikmat adalah seteguk air setelah menahan diri seharian demi Allah.
Dia kini sadar, selama ini telah mendustakan banyak nikmat. Nikmat waktu. Nikmat sehat. Nikmat iman yang dulu pernah begitu dekat.
Malam itu, setelah tarawih pertamanya dalam belasan tahun, Insani duduk sendirian di saf belakang.
Hatinya tidak lagi terasa kosong. Ada sesuatu yang kembali pulang.
Bukan dunia yang berubah. Tapi, hatinya yang kembali menemukan arah.
Di usia 31 tahun, di hari pertama Ramadan tahun ini, Insani menemukan kembali nikmat yang tak pernah benar-benar hilang—hanya sempat terabaikan.
Seteguk air serta makna dan kenangan di baliknya, telah membangunkan iman tokoh utama dalam cerpen ini.
Sebuah cerpen terilhami QS Ar Rahman ayat 13 yang berbunyi:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Dengan arti: Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Insani berbisik dalam sujud,
“Ya Allah, aku tidak ingin lagi mendustakan nikmat-Mu,”. (*)
*Penulis cerpen adalah redaktur Jawa Pos Radar Madiun.
Editor : Deni Kurniawan