Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Lalu bagaimana aku harus mengatasinya, Kakang Semar? Para pejabat negara sangat pandai bersilat lidah dan memutarbalikkan fakta," kata Puntadewa.
"Sehingga kami, para Pandawa, selalu kesulitan menemukan celah kebenaran,” sambung Amarta yang bijak itu.
“Pasti bisa, Ndara. Kebenaran itu terang layaknya cahaya. Jika tidak terang, maka itu bukan kebenaran, karena kebenaran akan selalu menemukan jalannya.”
Arjuna pun mendekat kepada pamong agung. Ia adalah seorang satria yang gemar bertapa.
Baca Juga: Budget 70 Juta Dapat Mobil Apa? Cek Rekomendasi Mobil Bekas Unit Tahun Muda dan Irit BBM
Dengan penuh harap, ia memohon kepada Semar agar memberikan secercah petunjuk supaya negeri ini kembali damai.
“Apakah tidak ada petunjuk atau wahyu bagi kami, para Pandawa, untuk menuntun menuju kebaikan, Kakang Semar?” tanya Janaka sambil memegang tangan Semar.
“Ndara Kula Bagus, hari ini para dewa menurunkan sebuah Wahyu Kamulyan Jati, sebuah wahyu untuk kemuliaan sebuah negara. Carilah!"
“Godaan seberat apa pun pasti akan aku hadapi demi rakyat dan negaraku tercinta, Kakang,” ujar Panengah Pandawa dengan penuh tekad.
Arjuna pun berangkat menuju Hutan Sunya Pringga dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Ia berjalan menyusuri desa desa terpencil di pelosok Amarta.
Baca Juga: Jembatan Jonggol Rusak, 900 Warga Ponorogo Terdampak
“Sungguh aku merasa malu menikmati makanan dan minuman yang enak, sementara banyak rakyatku kelaparan. Sungguh kejam para pejabat Indraprasta ini,” gumamnya.
Gerak gerik Arjuna ternyata telah diperhatikan oleh sekawanan perampok di pasar.
Meskipun ia menyamar sebagai rakyat biasa, pakaiannya masih tampak lebih baik dibandingkan yang lain, sehingga ia menjadi incaran.
Saat Arjuna lengah, para perampok itu membawa lari barang bawaannya yang berisi uang dan bekal seadanya.
Namun, Arjuna tidak menyesal. Ia justru berpikir bahwa mereka lebih membutuhkan semua itu daripada dirinya. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani