Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Tanpa marah dan tanpa kecewa, Arjuna justru merasa bahwa peristiwa itu merupakan sebuah bantuan, meskipun tidak seberapa.
Rakyatnya mencuri dan merampok bukan untuk membangun istana atau memperkaya diri. Mereka melakukannya semata mata untuk menyambung hidup.
Menurutnya, di dunia ini ada keadaan yang bisa dimaklumi, yaitu keterpaksaan karena lapar atau karena harus menanggung beban keluarga yang berat.
Di negara Amarta, kejahatan seperti mencuri demi makan atau berobat tidak sepenuhnya dianggap sebagai kesalahan rakyat, melainkan sebagai kegagalan para pejabat dalam mengatur dan menyejahterakan masyarakat.
Meskipun mencuri tetaplah sebuah kejahatan, ada berbagai faktor yang melatarbelakanginya, seperti ekonomi, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.
Baca Juga: Hasil Tinju Kelas Berat WBC: Deontay Wilder Menangi Duel vs Derek Chisora
Karena itu, Pandawa memiliki kebijakan tersendiri dalam menyelesaikan persoalan tersebut melalui hukum yang lebih bijaksana.
Namun, hal itu tidak berlaku di negara Astina. Di sana, mencuri demi sesuap nasi karena tidak makan berhari hari tetap dianggap sebagai pelanggaran hukum berat. Sementara itu, korupsi dalam jumlah besar justru kerap dilindungi dengan dalih kemanusiaan.
Tak heran jika Astina menjadi negara yang semrawut. Patih Astina, Sengkuni, dikenal sebagai dalang dari praktik korupsi yang merajalela.
Di Astina, mencuri ayam atau kayu bakar demi bertahan hidup dapat berujung hukuman tujuh tahun penjara. Sebaliknya, korupsi bermiliar miliar hanya dihukum sekitar dua hingga tiga tahun. Semakin kaya dan memiliki jabatan, seseorang justru semakin terlindungi oleh hukum.
Hukum seakan hanya berlaku bagi rakyat kecil yang tidak berdaya. Itulah Astina, sebuah negeri yang tampak menuju kehancuran dan keruntuhan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani