Semua cerita itu istimewa, Tuan dan Nyonya sekalian. Semua nyata di benak pengarang maupun penikmatnya.
Setiap kisah memiliki kadar keistimewaan masing-masing. Seluruhnya nyata terjadi di pikiran penulis serta pembacanya.
Tidak ada cerpen yang dikarang tanpa imajinasi. Bahkan, bisa berakrobat liar sesuai latar belakang Tuan dan Nyonya sekalian. Seperti, cerpen Penjual Puyer Kenangan bagian kedua ini.
WAKTU menggelinding seperti roda pedati. Sarban tak tahu bahwa, salah seorang konsumennya, seorang pensiunan polisi, telah mati bunuh diri (ini ada di cerpen Penjual Puyer Kenangan bagian 1).
Kini, pasar Wage buka kembali. Pasar hewan yang buka lima hari sekali. Pasar yang menjadi tempat Sarban mengais nafkah.
Seperti biasa, Sarban membeber barang dagangannya di atas kain. Berderet-deret botol berisi serbuk berwarna-warni tertata rapi.
Sejurus kemudian, seorang kakek dengan sarung duduk berjongkok di depan Sarban. Tangannya gemetar.
“Aku ingin berhaji, tapi semua tidak pernah berpihak kepadaku,” kata kakek lirih.
Sarban menatap mata kakek dengan lembut tanpa menimpali.
“Aku ingin tahu bagaimana rasanya berada di sana,” ucap Kakek sembari menatap botol-botol di hadapannya dengan penuh harap.
“Apa kau siap merasakan rindu yang lebih besar?” tanya Sarban. Kakek membalas dengan anggukan.
Seketika Sarban mengambil satu botol puyer berwarna putih keemasan.
‘’Ini, ambillah! Minum sebelum tidur nanti malam,’’ ucap Sarban.
Kakek meraih lipatan kertas berisi puyer kenangan sesuai keinginannya.
Dia menggenggamnya seperti menggenggam hidupnya sendiri.
“Ini,” kata kakek dengan menyodorkan sejumlah uang.
‘’Tidak usah, gratis,’’ sahut Sarban.
Kakek tidak merespons, tapi matanya berkaca-kaca.
Sarban hanya menunduk. Dia tahu, tidak semua doa dijawab dengan kenyataan. Sebagian dijawab dengan rasa.
Matahari telah bersembunyi di balik gunung. Gelap datang merayap, menutupi langit di atas rumah kakek.
Aturan pakai puyer kenangan yang disampaikan Sarban, dijalankan.
Selembar selimut bermotif garis-garis hitam dan putih ditarik.
Garis keriput di ujung mata hingga pelipis kakek tampak begitu kentara.
Singkat cerita, ayam jago berkokok untuk yang kedua kalinya.
Kakek terhenyak, terbangun dari tidur.
‘’Ya, Allah, kalau memang seperti ini, aku belum bisa melaksanakan perintah-Mu yang suci itu,’’ gumamnya.
Efek puyer kenangan dirasakan kakek di dalam lelap. Dia bermimpi berangkat haji seorang diri.
Rukun-rukun ibadah di Kakbah ditunaikannya.
Namun, apa yang terjadi sekembalinya dari Makkah membuatnya sadar bahwa dirinya belum siap melaksanakan haji.
Ya, kakek kehilangan semua yang dicintainya.
Dia memimpikan semua anak dan cucunya meninggal. Pun, istrinya.
Tempat tinggal, mobil, motor, sampai kucing kesayangan, tak diketahui keberadaannya.
Setelah berhaji di dalam mimpi, dia kembali ke rumah dan lingkungan yang tidak lagi seperti semula.
''Semua yang berhaji harus mengalami hal serupa sepulang dari Tanah Suci. Tapi, aku belum mampu,'' ujar kakek. (*/bersambung)