Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Sang Gohmuka langsung pergi dan menyampaikan kabar kepada Prabu Danapati bahwa Dewi Sukesi telah dinikahi oleh ayahnya sendiri. Mendengar hal itu, Prabu Danapati merasa sangat dikhianati.
“Keparat! Bagaimana mungkin ayahku melakukan ini padaku? Ayah macam apa engkau, wahai Wisrawa! Tunggu aku, akan kubunuh engkau!” teriak Danapati dengan penuh amarah. Ia pun segera berangkat menuju Alengka.
Di Alengka, tengah berlangsung pesta pernikahan Wisrawa dan Sukesi. Namun, sang Begawan tidak tampak bahagia karena teringat kepada anaknya.
Tak lama kemudian, sebuah keajaiban terjadi. Perut Dewi Sukesi tiba-tiba membesar, menandakan bahwa ia telah mengandung. Hal ini membuat seluruh Alengka gempar.
“Wahai rakyatku, kini aku sangat berbahagia. Tuhan telah mempercepat keturunan Alengka. Putriku sedang mengandung, dan anak yang ada dalam kandungannya kelak akan meneruskan takhta Alengka,” ujar Prabu Sumali.
“Di mana Begawan Wisrawa?” teriak Danapati dari luar, suaranya mengguncang suasana.
Wisrawa pun keluar dengan pakaian serba putih. Ia menghadang Danapati, lalu memeluknya.
“Maafkan ayahmu ini, Anakku. Ayah telah khilaf.”
“Jangan sebut dirimu ayah! Aku akan membunuh kejahatan yang ada dalam dirimu!” balas Danapati dengan amarah membara.
Dengan penuh penyesalan, Wisrawa memilih mengakhiri hidupnya. Ia berjalan menuju kobaran api dan menjatuhkan diri ke dalamnya sebagai penebusan dosa kepada anaknya. Begawan Wisrawa pun gugur dalam kobaran api.
“Sungguh kejam engkau, Danapati! Engkau raja yang egois. Mengapa engkau membunuh ayahmu sendiri? Tidak hanya itu, engkau juga telah membunuh kasih sayang bagi anak yang sedang kukandung. Dengarkan sumpahku, wahai Raja Lokapala! Suatu hari nanti, anak dalam kandungankulah yang akan membalas dendam. Engkau akan mati di tangannya!” seru Dewi Sukesi.
Mendengar sumpah itu, Prabu Danapati tersadar dan menyesali perbuatannya.
“Ayah… maafkan aku!” teriaknya penuh penyesalan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani