Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Cerpen Lakon Wayang Wisanggeni Takon Bapa 3, Perlawanan terhadap Batara Indra

Ki Damar • Selasa, 14 April 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Wisanggeni
Ilustrasi tokoh wayang Wisanggeni

Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Pergilah Wisanggeni ke kahyangan untuk mencari para dewa. Pertama, ia bertemu Batara Penyarikan yang sedang membawa banyak buku. Ia pun dihentikan oleh Wisanggeni.

“Hai, dewa yang membawa banyak buku, apakah kau sedang belajar?” tanya Wisanggeni.

“Dasar hamba tak tahu diri! Berani berbicara tidak sopan kepada dewa!” bentak Batara Penyarikan.

“Biarkan saja. Karena kulihat kau cukup pandai, aku ingin bertanya siapa ayah dan ibuku? Apakah kau tahu?”

“Dasar anak orang gila! Dirimu sendiri saja tidak tahu, apalagi aku!”

“Oh, ternyata dewa itu bodoh. Makanya, kalau duduk di atas, seringlah turun ke bawah untuk melihat penderitaan rakyatmu. Jangan hanya duduk tenang dan makan enak saja. Karena kau bodoh, terimalah pukulanku ini!”

Wisanggeni pun menghajar Batara Penyarikan hingga babak belur, membuatnya lari tunggang-langgang.

Kemudian ia bertemu Batara Temboro.

Baca Juga: Bocah 4 Tahun Hilang Misterius di Saradan Madiun, Pencarian Diperluas

“Hai, dewa yang matanya selalu mengantuk, siapa kau ini?” tanya Wisanggeni.

“Wah, kurang ajar kau! Aku ini dewa penjaga gamelan kahyangan!” jawab Batara Temboro.

“Oh, penjaga gamelan. Pantas saja kau selalu mengantuk. Aku ingin bertanya—siapa ayah dan ibuku? Apakah kau tahu?”

“Ah, bodoh amat. Aku tidak tahu,” jawabnya cuek.

“Dasar sombong! Terima ini kakiku!”

Batara Temboro pun kewalahan dihajar hingga pipinya bengkak.

Terakhir, Wisanggeni bertemu Batara Indra. Melihat perbuatan Wisanggeni yang sewenang-wenang terhadap para dewa, Batara Indra murka. Ia pun mengeluarkan guntur dan kilat untuk menyerang remaja itu.

Namun Semar tidak tinggal diam.

“Hai, kilat dan guntur! Jika kalian menyambar anak asuhku, maka kalian akan kehilangan cahaya dan kekuatan kalian. Kalian tahu kebenaran itu. Jika kalian buta, maka hancurlah bersama dewamu!”

Mendengar perkataan Semar, kilat dan guntur itu pun redup dan tidak jadi menyambar.

(*/naz)

*Penulis merupakan dalang wayang kulit dan alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen #Wisanggeni