Cerpen Patih Prebawa Mbalela, Lakon Wayang Bagian 1: Balada Proyek Prestisius Mandura

Ki Damar • Dipublikasikan Sabtu, 25 April 2026 | 19:26 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Arya Prebawa
Ilustrasi tokoh wayang Arya Prebawa

Oleh: Ki Damar*

Negara Mandura sedang mengadakan pembangunan besar-besaran di semua lini pemerintahan, mulai dari pertahanan, ekonomi, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Pada masa itu, Prabu Baladewa menunjuk Anoman sebagai insinyur pembangunan. Kantor-kantor akan segera didirikan demi kesejahteraan rakyat.

Namun, Patih Prebawa, salah satu patih Mandura, tidak terima. Ia pun berdiskusi dengan kakaknya, Patih Pragota.

“Kenapa kau memanggilku, adikku?” tanya Patih Pragota.

Baca Juga: Unik! CJH Ponorogo Pasang Kresek hingga Rajutan di Koper Haji

“Apakah Sinuwun ini tidak salah memilih seekor kera sebagai undagi atau tukang dalam pembangunan Mandura?” tanya Patih Prebawa polos.

“Memangnya kenapa, dik? Menurut cerita, Raden Anoman ini, meskipun seekor kera, adalah seorang satria dan kini menjadi pandita. Ia sangat sakti dan berumur panjang. Dahulu, pada zaman Prabu Ramawijaya hendak menyeberang ke Alengka, ia menjadi orang kepercayaan Sri Rama dalam pembangunan jembatan atau tambak penyeberangan. Membuat jembatan di atas laut pada masa itu sangatlah sulit, adikku. Jika hanya membuat bangunan, maka itu perkara yang mudah bagi Raden Anoman.”

“Namun, kakang, meskipun begitu, tidak akan menghilangkan sifat monyetnya itu. Hewan kera adalah makhluk serakah yang tidak mudah puas atas pemberian. Aku khawatir ia akan melakukan korupsi di negara kita. Bahkan aku dengar Prabu Duryudana, raja Astina, menawarkan diri membantu Mandura, tetapi malah ditolak. Bagaimana sih raja kita ini?”

(*/naz)

*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
Lakon wayang cerpen