Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Patih Prebawa Mbalela, Lakon Wayang Bagian 2: Tak Sudi Jadi Antek-Antek Asing

Ki Damar • Sabtu, 25 April 2026 | 19:51 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Arya Prebawa
Ilustrasi tokoh wayang Arya Prebawa

Oleh: Ki Damar*

Pragota menepuk pundak adiknya. “Sabar. Ini bukan urusan kita, adikku. Kita tidak tahu apa yang ada di benak Sinuwun Mandura. Tugas kita hanya sendika dawuh.”

“Benar, namun bila dipikir secara realistis, Raja Astina adalah pemimpin negara besar. Negara yang kaya tentu akan jauh lebih mudah membantu,” Prebawa masih belum bisa menerima kenyataan.

“Adikku, kau tidak memahami kepentingan negara. Sinuwun Prabu Baladewa jauh lebih tahu. Kau berbicara seperti ini karena pandanganmu masih awam, sehingga mengira semuanya mudah. Mungkin, bila kau menjadi raja atau pemimpin, kau pun akan melakukan hal yang sama. Maka jangan mengkritik pemimpin sekarang. Bisa jadi suatu saat kau juga akan bertindak serupa ketika menjadi pemimpin.”

“Bila aku menjadi raja, aku tidak akan menerima keduanya—tidak menerima Anoman ataupun Raja Astina. Mereka ingin membantu karena memiliki maksud terselubung. Negara Mandura kaya akan sumber daya alam, dan aku yakin mereka mengincar hal itu. Aku akan bersikap anti terhadap orang asing dan lebih bangga pada bangsa serta rakyatku sendiri. Orang luar hanya akan mengeruk dan memanfaatkan kita,” kata Prebawa tegas.

Baca Juga: Cerpen Patih Prebawa Mbalela, Lakon Wayang Bagian 1: Balada Proyek Prestisius Mandura

“Benar, namun kerja sama antarnegara juga diperlukan untuk memperkuat hubungan, baik dalam bidang ekonomi maupun lainnya.”

“Pokoknya aku tidak sudi bekerja sama dengan negara lain. Negaraku cukup mandiri dalam mengelola kekayaan alam. Kita tidak butuh orang luar.”

“Hahaha, dasar kamu ini terlalu keras. Awas saja, suatu saat bila kau menjadi pemimpin dan melakukan hal yang sama dengan Sinuwun, akan kutarik lidahmu,” canda Pragota.

“Hm, itu tidak akan terjadi.”

Prebawa pun pergi meninggalkan kakaknya, yang merupakan patih senior atau patih utama kerajaan.

(*/naz)

*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen