Oleh: Ki Damar*
“Dasar patih tak tahu diri! Kau bisa sampai sekarang dan mendapatkan jabatan ini karena aku menjadi raja. Aku percaya padamu karena kepolosan, kejujuran, serta jiwa nasionalismemu yang tinggi. Mengapa sekarang kau justru memberontak pada negaramu, ha? Apa kau tidak malu pada rakyatmu? Perilakumu kini disorot rakyat dan menjadi bahan tertawaan.”
“Aku tidak peduli. Apa yang kulakukan ini benar!”
Baladewa menghajar Prebawa, namun ia tidak merasakan kesakitan. Prebawa kemudian menggigit Baladewa hingga sang raja terjatuh. Semar segera menolong Raja Mandura dan membawanya mundur.
“Jika paduka kalah, itu sudah pasti, karena lawan paduka bukan orang sembarangan,” kata Semar.
“Ah, hanya Prebawa saja, kok bukan orang sembarangan bagaimana? Dia itu bawahanku, kakang.”
“Benar, tetapi ia sedang dikendalikan oleh seseorang yang tak terlihat. Itulah sebabnya ia menjadi sangat berani.”
“Siapa dia, Kakang Semar?” tanya sang raja penasaran.
Baca Juga: Cerpen Patih Prebawa Mbalela, Lakon Wayang Bagian 1: Balada Proyek Prestisius Mandura
“Paduka duduk di sini saja.”
Semar kemudian menarik Prebawa dan memegang tangannya. Tak lama, karena merasa kepanasan, Batari Durga keluar dari tubuh Prebawa.
“Maafkan aku, Kakang Semar. Aku tobat. Sebenarnya aku disuruh Duryudana untuk membuat kerusuhan di Mandura karena ia sakit hati, tawaran baiknya ditolak oleh Baladewa.”
“Jadi, kau masuk ke tubuh Prebawa untuk membuat onar dan kegaduhan ini?”
“Benar, Kakang. Maafkan aku.”
“Dasar iblis jahat! Pergi dari negara ini!”
Batari Durga pun kembali ke kahyangan Dandang Mangore. Setelah itu, Pragota membawa adiknya, Prebawa, untuk diobati. Berkat penjelasan Semar, akhirnya Prebawa dimaafkan.
Baladewa kemudian berpesan kepada seluruh rakyat agar tetap sabar dan bijak dalam menghadapi isu-isu politik, serta tidak mudah percaya tanpa mencari kebenarannya.
(*/naz)
*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani