Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sang Purucona, Lakon Wayang Bagian 4: Ketika Api Gagal Membungkam Takdir

Ki Damar • Sabtu, 2 Mei 2026 | 19:09 WIB
Ilustrasi insiden terbakarnya bale Pandawa. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi insiden terbakarnya bale Pandawa. (RADAR MADIUN)

Oleh: Ki Damar*

Karena terlalu lama bersama, banyak mata mulai mengawasi Sengkuni dan Purucona. Hal ini tidak baik bagi mereka, terutama bagi orang-orang yang mencurigai Sengkuni, seperti Yama Widura. Kecurigaan itu membuat Widura merasa tidak nyaman, sehingga ia menyuruh Pandawa agar tetap waspada.

Namun, kewaspadaan Pandawa memudar. Di hadapan mereka tersaji berbagai makanan lezat dengan aroma yang menggugah selera, membuat perut keroncongan.

“Wah, makanan ini… apakah boleh aku habiskan semua, Kakang Kurupati?” tanya Bima.

“Adikku Bima, jangan sungkan. Makan saja semuanya. Makanan ini memang untuk kalian. Pada dasarnya, kami para Kurawa tidak begitu suka makan. Kami justru diperintahkan untuk menyajikan semua ini kepada kalian,” ucap Kurupati.

“Adikku Bima, makanlah, tetapi jangan berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.”

“Aku mengerti, Kakang Puntadewa.”

Dalam sekejap, makanan di meja hidangan hampir habis, membuat Sengkuni takjub.

Baca Juga: MinyaKita Langka di Ngawi, Bulog Akui Pasokan Seret dan Baru Terima 35 Persen

“Wah, gila juga si Bima ini. Makanan sebanyak ini dimakannya dengan cepat. Dasar tak bisa menahan diri melihat makanan enak. Namun, ini pertanda keberhasilan. Sebentar lagi mereka akan pingsan dan tak berdaya,” gumam Sengkuni dalam hatinya.

Tak lama kemudian, Pandawa tergeletak. Purucona pun dipanggil.

“Jangan terlalu lama. Bakar tempat ini, Purucona! Aku tidak mau ada bukti yang tertinggal, sekecil apa pun!”

“Baiklah, Raden Patih.”

Purucona melaksanakan perintah Sengkuni. Namun, tiba-tiba muncul seekor garangan putih yang menyadarkan Pandawa dan Dewi Kunti.

“Wah, kenapa bisa terbakar seperti ini? Apa yang terjadi?” kata Bima.

Garangan putih itu dapat berbicara dan berkata kepada Bima, “Jangan khawatir, Raden. Cepat gendong ibu dan saudara-saudaramu, lalu ikutlah denganku.”

Bima pun menuruti perintah garangan putih itu.

(*/naz)

*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen #Pandawa #Sengkuni