Jawa Pos Radar Madiun - Dalam dunia pewayangan Jawa, nama Prabu Niwatakawaca dikenal sebagai salah satu tokoh raksasa paling sakti dan ambisius.
Ia merupakan penguasa Negeri Imaimantaka, sebuah kerajaan besar yang berada di wilayah selatan Atas Angin dan dihuni bangsa kasatmata sejenis gandarwa.
Prabu Niwatakawaca memiliki watak keras, mudah marah, dan sangat haus kekuasaan. Ia bercita-cita menyatukan seluruh dunia wayang di bawah kekuasaannya.
Namun, ambisi tersebut dilakukan dengan cara penaklukan, ancaman, dan kekerasan.
Keangkuhan Niwatakawaca mencapai puncaknya ketika ia berniat menyerang Kahyangan Suralaya atau Jonggring Saloka, tempat para dewa bersemayam.
Ambisi Menyerang Kahyangan
Keinginan menyerang kahyangan muncul setelah Niwatakawaca merasa tersaingi oleh kemajuan Negeri Amarta yang dipimpin Prabu Yudistira.
Meski baru berdiri beberapa tahun, Amarta berhasil menjadi kerajaan besar dengan istana megah dan pesta jamuan selama 40 hari untuk para raja di seluruh dunia wayang.
Hal itu membuat Niwatakawaca iri sekaligus marah. Ia kemudian menantang para dewa dan berniat merebut Kahyangan Suralaya.
Selain ambisi kekuasaan, ada alasan lain yang membuat Niwatakawaca semakin bernafsu menyerang kahyangan, yakni keinginannya mempersunting Batari Supraba.
Baca Juga: Rekomendasi Powerbank Terbaik 2026, Fast Charging dan Anti Lowbat
Kesaktian yang Sulit Ditandingi
Dalam kisah pewayangan, Prabu Niwatakawaca digambarkan memiliki kesaktian luar biasa.
Bahkan Arjuna yang dikenal sebagai ksatria sakti sempat kesulitan menghadapi kekuatannya dalam pertempuran.
Melihat keadaan tersebut, Batara Guru akhirnya memberi siasat khusus. Batari Supraba diminta mendekati Niwatakawaca untuk mencari tahu kelemahan sang raja raksasa.
Rahasia Kelemahan Niwatakawaca
Batari Supraba kemudian berhasil membuat Niwatakawaca luluh karena cinta. Dalam kondisi mabuk asmara, raja Imaimantaka itu tanpa sadar membocorkan rahasia terbesar tentang dirinya.
Ia mengungkapkan bahwa sumber kelemahannya berada di bagian tenggorokan. Di dalamnya terdapat Aji Ginengsukoweda, cahaya sakti yang menjadi pusat kekuatannya sekaligus titik kelemahan yang paling fatal.
Saat mengetahui Supraba berpihak kepada Arjuna, Niwatakawaca murka. Dalam kemarahannya, ia berteriak keras hingga cahaya Aji Ginengsukoweda terlihat jelas dari tenggorokannya.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Arjuna untuk melepaskan panah tepat ke arah cahaya tersebut.
Akhir Prabu Niwatakawaca
Panah Arjuna berhasil menghancurkan Aji Ginengsukoweda yang berada di tenggorokan Niwatakawaca.
Seketika itu pula kesaktian sang raja raksasa lenyap dan nyawanya berakhir.
Kematian Prabu Niwatakawaca sekaligus mengakhiri ancaman besar terhadap Kahyangan Suralaya dan dunia wayang.
Kisah ini menjadi salah satu lakon terkenal dalam pewayangan Jawa karena memadukan ambisi kekuasaan, cinta, pengkhianatan, hingga strategi dalam peperangan. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani