Jawa Pos Radar Madiun - Dalam dunia pewayangan Jawa, Wisanggeni dikenal sebagai salah satu tokoh sakti yang pernah mengguncang Kahyangan Suralaya.
Namun berbeda dari tokoh penyerang kahyangan lainnya, Wisanggeni bukanlah sosok jahat yang haus kekuasaan.
Ia justru datang membawa kemarahan dan tuntutan keadilan setelah menjadi korban ketidakadilan para dewa.
Kisah Wisanggeni bermula dari hubungan Arjuna dengan Dewi Dresanala, putri Batara Brama.
Arjuna Dipulangkan dari Kahyangan
Setelah mengetahui Dresanala mengandung anak Arjuna, Batara Brama murka besar. Ia merasa malu dan marah terhadap hubungan tersebut.
Brama kemudian menyuruh Arjuna segera kembali ke alam dunia dengan alasan Dewi Dresanala akan dijadikan penari di kahyangan utama oleh Batara Guru.
Tanpa menaruh curiga, Arjuna menuruti perintah itu dan meninggalkan kahyangan.
Namun setelah Arjuna pergi, Batara Brama justru menghajar Dresanala agar bayi dalam kandungannya keluar secara paksa.
Bayi Dibuang ke Kawah Candradimuka
Akibat perlakuan tersebut, Dresanala melahirkan sebelum waktunya. Setelah itu, Durga dan Dewasrani datang menjemputnya.
Sementara itu, Batara Brama membuang bayi yang baru lahir tersebut ke dalam Kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa.
Namun kejadian itu diam-diam disaksikan oleh Hyang Narada.
Baca Juga: Mengenal Prabu Niwatakawaca, Tokoh Wayang Raksasa yang Nekat Menyerang Kahyangan Suralaya
Lahirnya Wisanggeni
Narada kemudian menolong bayi tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, api Kawah Candradimuka tidak membunuhnya.
Sebaliknya, bayi itu justru tumbuh menjadi seorang pemuda sakti dalam waktu singkat.
Narada lalu memberinya nama Wisanggeni yang berarti “racun api”.
Nama itu diberikan karena Wisanggeni lahir akibat kemarahan Batara Brama, sang dewa api. Selain itu, api kawah yang seharusnya mematikan justru menjadi sumber kehidupannya.
Mengguncang Kahyangan
Atas petunjuk Narada, Wisanggeni kemudian mendatangi kahyangan dan membuat kekacauan besar.
Tidak ada dewa yang mampu menangkap ataupun mengalahkannya karena Wisanggeni berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Batara Guru.
Aksi Wisanggeni membuat Kahyangan Suralaya gempar.
Namun di balik kemarahannya, Wisanggeni sebenarnya hanya ingin mengetahui jati dirinya dan menuntut keadilan atas perlakuan yang diterimanya sejak lahir.
Batara Guru dan Brama Mengaku Salah
Melihat kekacauan yang terus terjadi, Batara Guru dan Batara Brama akhirnya menyadari kesalahan mereka.
Keduanya kemudian bertobat dan mengakui perlakuan tidak adil terhadap Wisanggeni dan Dresanala.
Narada pun akhirnya bersedia kembali menjalankan tugasnya di kahyangan setelah persoalan tersebut mereda.
Berbeda dengan tokoh antagonis lain dalam pewayangan, Wisanggeni tidak digambarkan sebagai sosok jahat.
Ia menyerang kahyangan bukan karena ingin merebut kekuasaan, melainkan untuk mencari keadilan atas nasib hidupnya sendiri.
Kisah Wisanggeni menjadi salah satu cerita wayang yang sarat makna tentang amarah, ketidakadilan, dan pencarian jati diri. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani