Jawa Pos Radar Madiun - Bima atau yang juga akrab disapa Werkudara dikenal luas sebagai putra kedua Pandawa yang mewakili simbol kekuatan fisik luar biasa.
Ksatria berotot kawat tulang besi ini dipercaya oleh masyarakat pewayangan sebagai titisan langsung dari Dewa Bayu sang penguasa angin.
Perawakannya digambarkan sangat gagah dan mengintimidasi dengan tubuh tinggi besar, sepasang mata yang bulat, serta bentuk hidung besar.
Salah satu ciri khas paling ikonik dari sosok Bima adalah kepemilikan sebuah kuku sakti mandraguna di tangannya yang diberi nama Pancanaka.
Meski sangat menonjolkan kekuatan fisik, ia sejatinya merupakan tokoh yang sangat jujur, pemberani, dan selalu berdiri paling depan membela kaum lemah.
Jika saudaranya Puntadewa melambangkan kebijaksanaan tanpa batas, maka Bima adalah wujud nyata keteguhan hati dalam melawan segala bentuk ketidakadilan.
Di balik perawakannya yang sangar dan wataknya yang terkesan keras, ia ternyata menyimpan rasa kasih sayang yang begitu mendalam kepada keluarganya.
Ia selalu setia hadir sebagai perisai tangguh sekaligus pelindung utama Pandawa kala mereka menghadapi berbagai ancaman keji dari kubu Kurawa.
Baca Juga: Lanud Iswahjudi Magetan Gelar Sikatan Daya 2026, Uji Kesiapan Hadapi Serangan Udara
Rentetan Kisah Hidup dan Lakon Penting
Ketangguhan Bima ini terekam sangat jelas dalam berbagai lakon legendaris, yang diawali dengan kisah kelahirannya dalam lakon Bima Bungkus.
Saat itu, sang ksatria lahir ke dunia dalam keadaan tidak wajar karena sekujur tubuhnya terbungkus oleh selaput super kuat.
Selaput sakti tersebut kabarnya sangat kebal terhadap senjata dan hanya bisa dibuka oleh campur tangan kekuatan gaib dari para dewa.
Ancaman terhadap nyawanya pun sudah datang sejak dini lewat lakon Bima Racun yang diotaki murni oleh kelicikan Sengkuni dan Kurawa.
Ia sengaja diracun untuk dilemahkan, namun justru berhasil diobati oleh Batara Antaboga dan dianugerahi kekuatan fisik luar biasa setara 40 ekor gajah.
Peran krusialnya sebagai pelindung keluarga juga terbukti sangat nyata dalam kisah Bale Sigala-Gala yang dipenuhi dengan intrik licik mematikan.
Bima tampil sebagai pahlawan utama yang sukses menyelamatkan Pandawa saat Kurawa mencoba membakar mereka hidup-hidup di dalam sebuah istana.
Menariknya, perjalanan hidup Bima ternyata tidak melulu soal adu otot dan unjuk kekuatan fisik semata di medan pertempuran.
Lakon legendaris Bima Suci atau Dewa Ruci menjadi titik balik dan puncak perjalanan spiritual sang ksatria dalam menembus hakikat kehidupan.
Saat diperintah mencari air suci Tirta Pawitra, ia justru bertemu Dewa Ruci dan mendapatkan pencerahan luar biasa mengenai hakikat manusia dan Tuhan.
Puncak pembuktian kekuatan dan ajaran hidupnya tentu saja meledak di Perang Bharatayuda saat ia tampil sebagai algojo penegak keadilan.
Dalam pertempuran banjir darah tersebut, Bima sukses menewaskan banyak ksatria utama Kurawa, termasuk di antaranya Dursasana dan Duryudana.
Filosofi Kekuatan sang Ksatria
Kisah hidup sosok Bima ini mengajarkan pesan moral bahwa kekuatan besar harus selalu digunakan untuk membela kebenaran dan pantang menindas sesama.
Dalam filosofi masyarakat Jawa disebutkan sebuah pepatah berbunyi, "yen lemes bisa gawe tali, yen kaku bisa gawe pikulan".
Pepatah tersebut sangat akurat dalam memotret kesempurnaan watak sang ksatria yang sangat tegas namun tetap memiliki ruang pengampunan.
Artinya, ia akan sangat welas asih jika dihormati, namun tak akan segan menjelma menjadi algojo menakutkan saat matanya melihat sebuah penindasan. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani